Student Council President x Handsome Alien – Ch.3A

Student Council President x Handsome Alien —Ch.3A

©parkhyenaKYU

      Study Tour,Scary Story and Trapped

cvr1

school-life, romance, drama, teen || f(x) Krystal,Wu Yi Fan ||
EXO Suho & Chanyeol, Jessica Jung & Eomma, f(x) Luna, Kai etc|| PG-15 || Length:chaptered

Disclaimer:
i just owned plot & story, not including the casts.
Plagarizing? I warn you to rethink again before do it!

ff ini terinspirasi dari manga & anime“Kaichou wa Maid-sama”

sebagian  ada yang  dimodifikasi, juga beberapa scene  yang sama, tapi selebihnya imajinasi author.

  ch.2

…and this ff special created for Tia~~happy reading my beloved reader  ♥♥

previous:
“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat mengajakku kemari, aku kemari karena terpaksa dan tidak ada pilihan, jadi—”
Yifan berjalan mendekat dan mendekat, hingga membuat Soojung terbentur tembok. Kedua tangan kekar Yifan mengunci Soojung, deru nafasnya begitu terasa di wajah Soojung. Senyumnya susah ditebak, apa itu baik atau buruk. Soojung memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatap muka dengan Yifan.

Yifan terkekeh, melihat Soojung seperti itu.
“Jadi?”ulang Yifan sambil memandang intens Soojung.
Soojung pura-pura terbatuk,matanya sesekali mencuri pandang.
“Jadi …jangan bermaksud atau melakukan yang tidak-tidak. Berani melakukannya, aku akan menghajarmu,ingat itu!”
“Melakukan yang tidak-tidak? Melakukan apa? Bisa kau beri contoh?”
Godanya dengan serangaian terlihat- seperti ya..bisa pikirkan sendiri.

Situasi ini…membuatku berada dalam posisi yang sulit. Haruskah aku melakukan sesuatu? Menghajar perut? Oh,bukan. Ada yang lebih ampuh. Ya! Itu! Aku mengerti!

“Oh, nona ketua. Aku tahu apa itu.”

 

Suasana sepi yang memungkinkan segala sesuatu terjadi, apalagi jika terjebak di situasi seperti ini. Seorang wanita yang terjebak di sebuah apartemen bersama seorang pria dan tidak ada siapa-siapa disana selain mereka berdua. Sang pria bisa saja berbuat sesuatu, sesuatu diluar kendalinya.

“Apa, nona ketua?”seingaian Yifan bertambah lebar,wajahnya semakin dekat sehingga hidung Yifan menyentuh hidung Soojung. Yifan menyentuh pipi Soojung, membuat gadis itu memerah wajahnya. Muka Yifan terlalu dekat, Soojung menendang perut Yifan dan membuat pria jangkung tersebut jatuh tersungkur.

Soojung bernafas lega setelah ia terlepas dari cengkraman juga tatapan risih Yifan yang berusaha menggodanya. Gadis ini merasa terbebas dari Yifan, Soojung mengambil tas ransel ungunya segera. Tapi….
Hachi! Hachi! Hachi!

Yifan terkekeh kecil mendengar suara bersin Soojung, dia malah tersenyum geli. suara tawanya terdengar Soojung, Soojung pun menoleh. Ia memandang kesal pada Yifan yang menertawainya, ya, memangnya orang bersin itu lucu? menyebalkan.

“Kau masih tidak mau minum obat, nona ketua? Terus pergi begitu saja? Dengan keadaan ringkih?  Sekarang hujan deras, atau … kau takut diapa-apakan, kalau tidak pergi dari sini?”
“Ak—hatsyii! Hatsyii! Tid—hatsyii!”
“Sudahlah makan obat dan supnya, nona.”

Ia menunjukkan semangkuk bubur seafood yang tersaji di atas meja kaca, Soojung masih bertahan dengan sikap keras kepalanya. Soojung terus saja bersin-bersin hingga hidungnya memerah dan banjir keringat dingin di sekujur tubuhnya. Ugh, apa dia masih bisa bertahan?

“Bagaima—hatsyii! Kalau ada sesuatu di dala—hatsyiii”

Baru kali ini ia dicurigai, Yifan mencoba sendiri sup buatannya, demi membuktikan kecurigaan Soojung.

” Hm..aku jamin ini aman.”Yifan selesai mencicip sup dan menyodorkannya pada Soojung.
“Sekarang, makanlah.”

.
.
9 pm, Dongdam High School
Sunyoung terus mencari keberadaan Soojung, di belakang gedung perpustakaan seperti kata Seulgi, ia tak menemukannya. Cuma Band nama ketua OSIS yang kotor, kemudian ponsel Soojung yang kebetulan jatuh disana.Sunyoung membawanya dan menyimpan barang-barang itu di ruang OSIS. Saat Sunyoung akan keluar, ia bertemu Seulgi.Kebetulan ia mau mengambil sesuatu di sana.

“Seulgi-a, aku tidak menemukan ketua dimana pun.
Seulgi menepuk pundak Sunyoung, kemudian mendesah pelan.
“Di mana ketua, semoga dia baik-baik saja.”
” Ya semoga.” ucap Sunyoung penuh harap.

Tak lama Seulgi mendengar suara riuh dari arah aula, ia menepuk dahi.

“Eh, para siswa sudah berkumpul. Sudah waktunya penutupan kan? Ketua OSIS tidak ada… gawat! Sunyoung-a, ayo!”

“Ah, benar! Kita harus utus seseorang  pidato!”

Mereka berdua berlari ke aula, di sela-sela itu Sunyoung menelpon Chanyeol.

‘ Tolong gantikan ketua pidato!’

‘ Ya! Kenapa aku? Or—’

‘Ini darurat!  Cepat ke podium sekarang juga!’ 

Soojung House

Sooyeon terus menghubungi ponsel Soojung namun tidak menyambung juga. Ke mana dia sebenarnya. Sooyeon mengigit bibir bawahnya dengan pandangan cemas sambil terus memencet nomor-nomor yang sekiranya berhubungan atau mungkin teman terdekat Soojung. Wajar saja, karena ini sudah larut malam, ia takut adik kesayangannya terjadi apa-apa.

Malam ini hujan badai, diperkirakan sampai besok pagi badai akan berlangsung, begitu menurut ramalan cuaca. belum lagi tidak boleh keluar oleh eomma, Sooyeon merasa kesal. Kesal, sangat kesal. Dia begitu khawatir pada Soojung, padahal ia sudah membawa payung dan bersiap keluar.

Sooyeon mengambil jas hujan abu yang tersampir di balik pintu masuk, juga payung transparan bermotif sulur tanaman. Gadis itu lagi-lagi lupa memakai bot, hujan badai semakin menjadi saat Sooyeon keluar dari rumah. Eomma Jung berusaha menghentikan gadis sulungnya yang khawatiran, bohong kalau dia tak peduli.  Eomma Jung melepas celemeknya dan menyusul Sooyeon.

.
.

“Singkirkan gengsimu sebentar ok? Aku sudah membuatnya, jadi habiskan.”

Soojung memakan sup tersebut, dan benar, di dalamnya tidak ada racun atau obat penenang. Sifat paranoid  terkadang membuat orang risih, tapi kenapa pria itu tidak merasa risih padanya? Atau membuat kesal? Entahlah. Sudah saatnya dia menyingkirkan perasaan itu, sebelum membuat orang lain tambah kesal.

Setelahnya Yifan ke kamar, mengambil kaos basket merah lalu kembali ke ruang tengah, sekedar mengawasi Soojung yang sedang makan sup.

“Sepertinya urat malumu putus ya? Bisa-bisanya ganti baju di hadapan seorang gadis, heh? “ucapnya sarkas.
Yifan hampir melepas kaos sambil melempar senyum maut,

” Aku… tidak minta… kau… melepas! Pakai lagi!”

Wajah Soojung memerah, ia menutupi pipinya dengan syal wol abu-abu yang dililitkan ke leher hingga setengah wajah. Malu karena digoda? Entahlah. Mata Soojung memandang ke sekeliling, kenapa tidak ada jam dinding? merogoh tas ransel di sofa, mengacak-acak isinya, namun peluang ditemukan nol alias tidak mungkin ketemu.

Ia menjedotkan dahi ke meja, diiringi umpatan sebal. Arghh! Baru ingat! ponselnya jatuh di rerumputan di belakang gedung perpustakaan.

Soojung harus pulang, tapi bagaimana ia bisa pulang kalau sekarang ia tidak tahu jam berapa, jam berapa bis terakhir datang? Soojung berinisiatif meminjam ponsel Yifan, sayangnya Yifan tidak punya. Ia panik bukan kepalang, Soojung berdiri dan bergegas keluar apartemen, ia ingin mengejar bis untuk pulang ke rumah. Yifan berjalan mengikuti Soojung sampai depan pintu, saat Soojung sedang bersiap mengenakan sepatunya. Ia baru memperingatkan.

Soojung membuka pintu apartemen, angin serta air hujan menghujam wajahnya dan terlihat tubuh Soojung kebasahan juga mengigil akibat air hujan yang dingin. Ia membalikkan tubuhnya dan Yifan tidak ada disana, kemana dia? Soojung kembali melepas sepatu dan kembali masuk lalu mencari dimana handuk simpan, koridor apartemen Yifan cukup panjang, di dekat pintu masuk belok kiri sudah ia masuki, hanya ada kamar kosong luas dan di depannya ada pintu berwarna putih pucat yang dikunci.

Soojung menengok sebelah kanan di sana masih ada ruangan, ada tiga ruangan. sejajar dengan Soojung, ada ruangan yang pintunya terbuka sedikit juga remang, apa mungkin itu kamarnya? Ia masuk perlahan. Barulah seseorang masuk dan menutup pintu tersebut, orang itu berdiri di samping pintu. Soojung tidak menyadari orang di belakangnya, hingga orang tersebut mendekat.

Gadis ini mencari dimana letak handuk, membuka setiap nakas. Tidak sengaja ia membuka nakas lemari dan merongoh isinya, betapa kagetnya dia ketika mengambil boxer hitam. Soojung melemparnya ke belakang, benda itu tepat ke seseorang di belakangnya, dia kemudian maju mendekati Soojung. Yifanorang itutiba-tiba di belakang, tangan kirinya menarik nakas pegangan kayu bulat diatas kepala Soojung, ia menjatuhkannya.

Handuk.
Benda yang dari tadi dicari Soojung.

Yifan keluar dari kamar itu, menutup dan menguncinya dari luar. Soojung ingin keluar tapi tidak bisa. Dari luar Yifan mengingatkan,”Rak baju ada di sebelah kanan,”
“Lebih baik kukunci, daripada aku berubah pikiran.”lanjutnya.

.
.
Eomma dan Sooyeon mencari ke sekolah, tapi mereka tidak menemukannya, mereka sudah menghubungi teman-teman Soojung, temannya bilang ia tidak bertemu Soojung, ia menghilang saat pesta kembang api. Ke mana lagi harus mencarinya? Ini sudah larut malam.

Mereka kelelahan, belum lagi perut keroncongan karena tidak sempat makan. Di dekat kawasan apartemen mewah, ada sebuah minimarket 24 jam, untung saja eomma bawa dompet jadi bisa membeli dua mangkuk ramyun dan 1 botol air mineral. mereka duduk di kursi besi bulat dengan meja panjang yang membentang. Eomma Jung duduk sendiri sedangkan Sooyeon sedang meracik mie instan di samping termos panas dekat meja kasir. Meracik sekaligus menuang air panas cuma 5 menit, tapi antrinya yang lama.

Eomma Jung mengetuk-ngetuk meja, ia bolak-balik memandang antrian termos, masih dua orang lagi. Daripada bosan, eomma Jung coba menelpon Amber, teman terdekat Soojung untuk menanyakan keberadaan Soojung, namun tidak ada jawaban. Ia mengecek daftar telpon yang bisa dihubungi, semua sudah, terus ia harus telpon siapa lagi?

30 menit kemudian mereka keluar minimarket dan kembali mencari Soojung. Sooyeon juga ibunya berada di halte, karena hujan badai sedikit mereda jadi mereka cari tempat yang mudah ditemukan Soojung. Tiba-tiba ponsel Sooyeon berbunyi, wajah Sooyeon berubah setelah menerimanya.

“Ya, aku mengerti! Terima kasih infonya!”
“Eomma! Tadi aku menerima telpon Soojung berada di dekat sini. Ada temannya yang tahu di mana Soojung, dia dibawa ke Apartemen mewah, apa ya namanya?”Sooyeon melirik ke sebuah apartemen yang tadi dilewatinya.
“Ah! Ini dia, apartemen Imperial!”

                                                                                                                      ****

“Teman-teman, aku sebagai perwakilan OSIS, mengucapkan terima kasih atas kedatangan kalian di festival ini, dan..kami minta maaf atas kecelakaan kecil yang terjadi selama acara, untuk kedepannya kami akan berhati-hati. Sekian, dengan ini festival resmi ditutup.”Chanyeol menutup acara dengan melepas kembang api. Para pengunjung turut bertepuk tangan meriah, setelah kembang api selesai, mereka membubarkan diri.

Panitia Baazar membereskan stand-stand, tenda, melepaskan kain dan membongkar tiang. Menaruh sementara di gelanggang olahraga, dengan itu urusan mereka selesai. Beberapa panitia ada berkumpul di ruang OSIS, ada juga yang pulang.

.

.
Setelah membereskan dan menyimpan meja stand. Chanyeol ke ruang OSIS mengambil tas dan jaketnya, kemudian ke tempat parkir. Sebelum berkendara, Chanyeol mengeluarkan ponselnya, ia menelpon Sooyeon. Ia memberitahu keberadaan Soojung, kemudian melaju kencang keluar SMA Dongdam, menembus pekatnya malam. Ia pulang ke rumahnya, di daerah Gangnam. Kawasan elit dimana artis maupun pejabat penting tinggal.

Ke sebuah apartemen elit.
.
.
Chanyeol memarkirkan motornya di basement, ia tidak sabar bergeletak di kasur empuk di apartemennya, melepas penat setelah festival. Tapi, sebuah telepon berdering di saku jaketnya. Telpon itu membuat ia mengurungkan niatnya untuk istirahat, ia baru ingat kalau ada yang ingin bertemu dengannya.

‘Aku sudah sampai di apartemen, hmm..aku bingung, dimana kamarnya. Bisa minta bantuannya, Park Chanyeol-ssi? Aku tunggu di lobi, terima kasih sudah membantu’
.
.
Chanyeol pun tiba di lobi, ia dilambaikan oleh seorang gadis berwajah blasteran dengan rambut hitam kecoklatan, disampingnya berdiri seorang wanita paruh baya berambut keriting pendek. Ia menghampiri mereka dan mengajaknya masuk lift, untuk mengantar mereka ke tempat Soojung berada. Ke lantai sepuluh.

Sooyeon dan ibunya berbinar-binar bahagia bisa menemukan Soojung, mereka tidak sabar bertemu Soojung. Chanyeol memencet bel apartemen Yifan, ia meminta Sooyeon dan ibunya menunjukkan wajah di layar tersebut.
Ia mohon diri pergi, meninggalkan mereka berdua.

“Soojung-a!! Kau di dalam? Ini aku dan ibu datang menjemputmu!” panggil Sooyeon dari luar. Yifan membukakan pintu dan menyambut tamu itu. Benar, mereka datang. Masuk ke apartemen tanpa malu, bahkan Sooyeon cengar-cengir memandang interior mewah di sana, berjalan melihat isi apartemen. Ibunya juga sama saja.

Eomma Jung ikut nimbrung duduk di sofa, merasakan kenyamanan duduk di sofa empuk mahal, ia mengelus-elus sofa itu. Dia seperti orang udik yang baru tahu apa itu barang mewah. Di samping itu, Yifan di dapur menyiapkan teh lemon hangat untuk tamunya. Sosok tinggi menjulang serta raut wajah tampannya seolah magnet, berhasil membuat ibu Soojung terpukau juga tidak henti melontarkan pujian. Sebuah balasan tidak terduga keluar dari bibir Yifan,” Ah, kalau bibi merasa begitu sepertinya bibi beruntung,” Ia memandang ke arah Soojung, sambil mengedipkan genit mata kanannya” Aku teman spesialnya… oh, hampir lupa. Aku Wu Yi Fan, salam kenal, nyonya. lalu…kau..”

” Sooyeon.”

Ha? Bicara apa dia? Soojung mengerinyitkan dahi, orang ini kepedean sekali, sejak kapan Soojung jadi pacarnya?

” Ayo diminum tehnya.”

Ia membawa teh lemon hangat, menaruhnya di meja. Ibu dan Sooyeon langsung meminum sampai habis, setelah itu kembali berceloteh.

Lontaran itu malah dibalas nyonya Jung, ” Hm, kalau pacarnya sepertimu, aku yakin hidup putriku terjamin, apalagi kalau nanti menikah dan tinggal di tempat mewah seperti ini. Sooyeon-a, setuju? ” nyonya Jung menoleh.

 Sooyeon mengangguk cepat.

Eh, suara petir mengagetkan mereka, ditambah badai angin semakin membesar, kemungkinan Soojung dan keluarga tidak bisa pulang malam ini. Sooyeon melihat jam di ponselnya, ini sudah larut malam, mendekati jam dua belas.

” Menginap saja disini. Kalian bisa tidur di kamarku, aku tidur di sofa. “

Sooyeon memperhatikan Soojung, matanya memerah dan mulai terkantuk-kantuk. “Soojung-a, tidak apa kalau menunggu sampai reda? Badainya kenca—yah, anak ini.”

Tak lama Soojung tertidur di sofa, mungkin efek obat demam yang diminumnya tadi. Ia hampir membentur pegangan sofa, reflek, tangan Yifan menyangga kepala Soojung. Ia dibawa ala bride style ke dalam kamar Yifan, dan membuat mereka tersenyum tidak jelas.

Yifan mempersilahkan keluarga Soojung tidur di kamarnya yang minimalis. Mereka begitu terpesona akan perlakuan gentle yang dilakukan Yifan pada Soojung, ah membuat besar kepala saja. Badai yang kencang tidak mengganggu tidur mereka, apalagi tidur di ranjang king size dengan bantal tebal. Tidurnya semakin nyaman dan nyenyak. Sedangkan Yifan menuju kamar satunya untuk mengambil bantal dan bed cover, ia menaruhnya di sofa. Lalu berbaring dengan menaruh tangan kanannya sebagai penutup wajah, ia mulai terlelap.

                                                                                                                      ****

Matahari mulai menyingsing, sinarnya mulai tampak diantara gedung-gedung, ternasuk apartemen Imperial yang menjadi tempat singgah Soojung, mata Soojung terbuka, netra biru tuanya menangkap cahaya terang yang menyembul lewat jendela kamar Yifan, Soojung terbangun dari tidurnya. Ia berjalan gontai, sesekali matanya dikucek untuk memperjelas pandangan. Satu hal yang ia lakukan ketika bangun tidur, meminum air putih. Soojung ke dapur mengambil air di kulkas, eh, ketika ia selesai minum dan menutup kulkas, ada suguhan indah, tepat di depan mata.

Wu Yi Fan, pagi-pagi ia sudah berada di dapur. Ia sedang menyiapkan sarapan untuk Soojung, sarapan ala barat. Sandwich, bubur gandum hangat serta susu putih, tersaji di meja dapur. Entah kenapa pemandangan ini membuat terpana Soojung, seorang pria memasak di dapur, tangan besar dan kekar itu menggoreng telur, membolak-balik telur, diselingi mengaduk bubur. Oh astaga, apa omongan ibunya semalam jadi kenyataan? Pacar? Apa mungkin calon suami?

Soojung mengelengkan kepala, ia mulai membayangkan aneh-aneh. Tapi ia tidak menampik, Yifan seorang sosok pria idaman. Soojung kembali ke kamar, langkahnya terhenti, Soojung membalikkan badannya.

“Hey, nona. Bangunkan ibu dan kakakmu, bilang sarapan sudah siap.”

Senyumnya terukir ketika mengucapkannya. Ugh!Senyumnya membuat deg-degan, muka Soojung memerah jadinya.
” Ya..aku..panggilkan.”
.
.
“Maaf ya, jadi merepotkanmu, Yifan-ssi. Kami permisi dulu, terima kasih atas tumpangannya.” nyonya Jung menunduk, dia keluar pintu apartemen bersama kedua putrinya. Mereka pulang cepat karena Soojung harus bergegas ke sekolah, meskipun jam segini. Jam enam lima belas, masih lengang tapi terlihat anak-anak sekolah sudah menunggu di halte bis. Soojung tidak punya waktu banyak, sebelum jam delapan ia harus tiba di sekolah.

Bis berangkat walau sedikit terhambat, Soojung dan keluarga bisa bernafas lega. Ternyata sesuai perkiraan, mereka sampai jam tujuh kurang, Soojung bergegas lari menuju rumah dan membawa seragam, ia hanya sempat cuci muka setelah selesai mengambil seragam juga sedikit uang transportasi. Belum mengucapkan hati-hati di jalan, nyonya Jung hanya bisa memandang jauh. Padahal ia ingin menambah uang saku sekaligus uang jajan.

“IBUU!!! AKU PERGI!!”

At School
Soojung datang dalam keadaan belum mandi, ia memilih jalur belakang, mengendap-endap ke kamar mandi di rumah penjaga sekolah yang berada di belakang sekolah, berbatasan langsung dengan dinding sekolah. Tae Ri, sang anak penjaga sekolah memergokinya. Bocah lelaki setahun dibawahnya itu, menatap polos Soojung.

Noona, mau ke mana? Ini kan jam inspeksi?”

Soojung hanya menyengir lebar, tangan Soojung ditarik  Tae Ri untuk dibawa ke gerbang depan.
“Tae Ri-a, kumohon lepaskan sebentar. Aku mau ke toilet rumahmu, bisa? “Soojung pura-pura mengidikkan kakinya. Supaya Tae Ri percaya kalau dia benar-benar ingin ke toilet.

“Kulihat tidak kebelet...sudahlah, ayo ikut aku!”

“TAE RI-A!! Kumohon!!”
“Ini perintah Lee songsaengnim! Soalnya dari tadi mencari noona.”

Cengkraman yang kuat untuk anak seusia Tae Ri, ia berhasil mengunci tangan Soojung, dan memenangkan perdebatan. Soojung berkencan dengan peralatan mandinya harus ditunda, bahkan untuk keramas sekalipun. Soojung menggaruk rambutnya serta mencium aroma apek yang menguar, aduh bisa gawat kalau Lee Songsaengnim menciumnya, dia kan pencinta kebersihan, Soojung pasti diceramahi panjang lebar soal menjaga kebersihan.

Tae Ri menyeretku hingga mendekati lapangan, kekuatan lengannya membuatku sulit bernapas. Mukaku jadi memerah karena itu, di lapangan aku ditonton murid-murid yang baru saja masuk halaman sekolah, mereka menertawaiku. Ya, bahan tertawaan. Astaga! Anggota OSIS ikut menertawaiku juga, apa yang salah denganku? Apa bau apekku ketahuan?

Mereka memandangi Soojung, memandangi dengan tatapan mengejek. Oh, ayolah kenapa tidak ada satupun yang bilang, bilang apa yang aneh dengan Soojung, sang ketua OSIS. Anak-anak OSIS saling melempar pandangan, Chanyeol berbisik pada Seungyoon yang berdiri di sampingnya, mereka menertawakan sesuatu. Seohyun hanya tersenyum lalu membungkukkan badannya. Oh, Soojung tahu, ia juga tertawa kan?

” Ketua, habis tidur di kabel tiang listrik? Terus kesetrum?”Seungyoon berseloroh.

Apa? Tiang listrik? Sembarangan! Memang burung gagak?!

Sunyoung membawakan kaca yang tersimpan di jaket jersey putihnya, memberikan kaca itu pada Soojung, betapa kagetnya Soojung.  Rambutnya berantakan seperti surai bulu singa, rambutnya tak beraturan.

“Kenapa cengar-cengir?! Setidaknya kan beritahu aku!”celotehnya kesal.
“Ah, tidak apa kan sekali-kali.”

Seungyoon tertawa jahil.

Soojung merapikan  dengan semprotan rambut dari Sunyoung. Oh! Di mana Lee Songsaenim? Bukannya dia memanggil Soojung? Soojung bertanya-tanya karena ini tidak biasanya Lee Songsaenim bolos mengawas inspeksi.

“Kita disuruh inspeksi sendiri, Lee ssaem ada keperluan mendadak, katanya ibu beliau masuk rumah sakit barusan!” Chanyeol memberi pengumuman.

“Ayo, ayo jangan malas!”Soojung menepuk-nepuk tangan keras untuk mengarahkan anggotanya inspeksi.
.
.
Bel pengumuman berbunyi saat peralihan jam kedua, yang memberi pengumuman adalah Jang Ssaem, selaku koordinator study tour. Ia meminta ketua kelas sekelas 2 berkumpul untuk pengarahan kegiatan study tour yang rencananya berlatar belakang kegiatan sosial. Sebelum itu Jang ssaem mengingatkan soal surat ijin study tour, soal pengumpulannya. Ini adalah tanggung jawab ketua kelas.

Kim Junmyeon, ketua kelas 2-D bangkit dari tempat duduknya, ia berdiri di meja guru untuk menyampaikan pesan Jang ssaem. Kelas 2-D, bukan kelas yang mudah diajak kerjasama, Junmyeon bolak-balik menggebrak meja, sebab anak-anak sekelas sibuk dengan keperluan yang tidak penting. Lihat saja Sungyeol yang santai membaca komik dan tanpa segan ia mengeluarkan komik-komik Naruto, Seulgi sibuk membaca majalah, ia senyam-senyum sendiri terkadang gemas tanpa sebab. Soojung, yah, dia memang memperhatikan tapi karena kepalanya gatal tak jarang tangannya iseng mengaruk.
” Apa harus kelas ini di bom, baru kalian sadar?”
“Hey! Kalian dengar tidak?”
” Soojung-a!!”

Mata Junmyeon mengarah ke Soojung, tatapannya begitu menusuk. Tatapan itu sangat mengganggu, mau tidak mau Soojung kembali ke mode kharismatiknya. Junmyeon menatap penuh harap pada Soojung, ok, Soojung harus melakukannya. Soojung berdiri lalu berjalan ke arah meja guru, ia sedikit merapikan rambutnya. Soojung pasang mode killer sebagai senjata menertibkan teman-teman sekelas.

“Kemarikan!”Soojung menyodorkan tangannya.
Sungyeol menyembunyikan semua komiknya dikolong meja, ia pun bersikap manis dengan menaruh tangan di meja.
” Kau kira aku tidak tahu? Komikmu, kemarikan!”
“Kalau tidak mau disita, harusnya tahu, jika ada orang yang bicara di depanmu, perhatikan! Jangan asyik sendiri. Dan untuk kalian semua…hargai orang di depan kalian, beri kesempatan dia bicara. Bukan maksudku melarang kalian melakukan kegiatan favorit, kalian boleh melakukannya, tapi  jangan sampai mengabaikan orang lain, mengerti kan? Apa masih ada yang berani membangkang? Ayo kemari kalau berani!” Mata Soojung berkilat-kilat ketika berbicara di depan, belum lagi tatapan tajamnya seolah menusuk ke dalam hati.

Soojung turun dari podium, sebelum duduk, Soojung menepuk pundak Junmyeon. Ia berbisik ‘ Lain kali berusahalah sendiri, ketua kelas Kim- Jun- myeon.’ Fuiihh…suasana kelas cukup kondusif, Junmyeon bisa naik podium sekarang.
” Ok, kalian bisa dengarkan aku? Ini mengenai surat ijin study tour, disini yang sudah minta tanda tangan orang tua, cepat kumpulkan di meja. Untuk yang belum tolong segera ya, study tournya tiga minggu dari sekarang. Nah, sebelum hari itu tiba, aku harap bisa terkumpul sisanya.”

Junmyeon memohon pada anak sekelas, sambil menunduk ketika mengucapkan kalimat terakhir. Baru terkumpul sedikit, yah, lumayan. Cuma belum cukup, Junmyeon mendesah pelan mengambil sepuluh lembar kertas perijinan. Ia turun dari podium, wajahnya tergambar rasa cemas, cemas jika mereka sekelas terancam tidak bisa ikut study tour.

Ternyata tugas berat juga mengumpulkan hal sepele seperti ini. Junmyeon sudah terlanjur bertanggungjawab sebagai ketua kelas, mau tidak mau, suka tidak suka, sabar tidak sabar, ia harus tahan. Chorong merasa empati pada Junmyeon, ia tidak tega melihat Junmyeon selalu diabaikan. Chorong menepuk pundak Junmyeon, memberikan sebuah senyuman semangat, senyuman Chorong setidaknya bisa sedikit melupakan rasa cemas.

Junmyeon segera menghadiri rapat bagi semua ketua kelas di aula, ia ditemani Chorong sebagai wakil dan juga sekertaris. Ketika rapat dimulai, Junmyeon mematikan ponselnya, menaruh ponsel itu meja kursi.

sementara itu…
Insiden tadi membuat Soojung ingin bicara soal kekurangtegasan Junmyeon dalam memimpin kelas. Makanya begitu Junmyeon selesai ikut pengarahan, ia menelpon Junmyeon. Dia harus membicarakan ini segera. Mumpung kerjaan OSIS masih sedikit, kebetulan punya waktu luang, harus dimanfaatkan.

Eh, Junmyeon lupa atau bagaimana, ponselnya tertinggal di aula dan kembali ke kelas tanpa sedikit pun menyadari. Saat jam istirahat adalah waktu yang tepat untuk bicara, Soojung sengaja menunggu di kantin, di dekat pintu masuk kantin supaya Junmyeon mudah melihatnya. Sambil menunggu, ia membuka buku pelajaran, mempersiapkan pelajaran setelah ini. Mata Soojung sedikit mencuri pandang ke arah pintu masuk, siapa tahu Junmyeon lewat. Ia kembali memandang ponselnya,

‘ Kim Junmyeon! Kenapa tidak jawab sms atau teleponku?’
Soojung menekan keras ponselnya, ia terlanjur kesal, padahal jelas menelepon, ada apa dengannya?
“Hai ketua, sendirian saja. Mau kutemani?”tawar seseorang, Soojung menoleh ke sumber suara. Sosok itu bukan sosok yang ia harapkan, tapi setidaknya ada teman duduk, setelah sekian lama sendirian karena menunggu seseorang.
” Kenapa kau selalu muncul dimana-mana?”Soojung menenggelamkan wajahnya di antara bahu, nafasnya begitu berat.
” Aku punya radar khusus, nona. Radar khusus yang bisa mendeteksi, mau tahu apa?”
Soojung mengangkat kepalanya dan bersandar di kursi, memandang Yifan ternyata bisa membuatnya tertawa, entah orang ini punya charming tersendiri, terkadang omongan atau pun raut wajah datarnya seperti obat penyembuh kesal.
” Radar alien, kau kan aneh seperti alien. Seperti ini”Soojung menggambar garis panjang yang diujungnya ada bulatan.
“Ding dong! Salah!”
“Mau tahu di mana?” ia mencondongkan tubuhnya, jari telunjuk Yifan menunjuk pada sesuatu.” Di sini, lalu di sini.”dengan menunjuk mata dan dada Soojung.
Yifan menatap Soojung intens, “Nona ketua, apapun perasaanmu aku bisa mengetahuinya. Termasuk apa yang kau rasakan, dan juga…”
Soojung terdiam, tiba-tiba Yifan mendekat, mendekat ke telinga kiri Soojung. Dia tersenyum kemudian membisikkan sesuatu. Suara Yifan di pikiran Soojung begitu seksi, ia jadi deg-degan.
“…cinta.” kata terakhir Yifan, sukses membuat wajah Soojung seperti kepiting rebus, merah, merah merona.

Sebuah pemandangan yang langka, wajah ketua OSIS merah padam seperti itu. Sunyoung dan Seungyoon menjadikannya tontonan menarik, apalagi bagi Sunyoung, mulutnya gatal ingin menanyakan reaksinya. Tanpa sadar Sunyoung melangkahkan kaki, eh, keburu lehernya dikunci Seungyoon.
” Eh,eh, mau ke mana, nona vegetarian? Dari koridor sini tidak kelihatan, heh?!”
” Seungyoon-a~~kumohon.”

Junmyeon duduk di mejanya, mengambil bekal makanan yang ia bawa, sebuah kotak bento berwarna hitam keemasan. Ia membawa bekal tersebut ke kantin, jalannya begitu santai tanpa beban. Sambil bersiul pula. Seorang teman dari kelas 2-B yaitu Jisoo melingkarkan tangannya di pundak Junmyeon.
“Hey! Bekal? Astaga, Junmyeon-a. Bisakah kau hentikan itu? Kau bukan anak SD lagi.”protesnya pada Junmyeon.
Junmyeon membalasnya dengan cengiran lebar, serta tatapan pasrah di matanya.” Jisoo-ya. Kau tahu ibuku? yah..meski sudah kutolak bekal ini, dia selalu punya cara memasukkan ke tasku.”

Mereka mencari tempat duduk di kantin, pilihannya tertuju pada meja di samping Soojung dan Yifan. Junmyeon beserta Jisoo duduk di sana tanpa menyadari orang di samping kanan yang begitu dekat dengannya. Soojung pun tidak tahu bahwa orang di aamping kirinya adalah orang yang dia cari, mereka terlalu sibuk siapa orang di sampingnya karena urusan masing-masing.

Ketika Junmyeon makan, sumpitnya melayang ke Soojung. Sumpit itu jatuh ke rok Soojung, dia terjepit meja, eh, kemudian malah jatuh ke bawah kaki Soojung. Junmyeon tidak malu mengambil sumpit tersebut di bawah meja Soojung, meski harus merangkak. Soojung geli seperti ada sesuatu di bawah kakinya, ia reflek menendang, lalu timbullah suara akibat tendangan tersebut.
“Awh..pantatku..”

Soojung menengok ke bawah dan ia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia merasa bersalah menendang temannya sendiri. Teman sekelasnya.

Dengan pantat yang nyeri akibat tendangan Soojung, Junmyeon keluar dari kolong meja, tangannya mengelus-elus pantat. Ia kembali ke mejanya dan mengelap sumpit yang terjatuh. Jisoo memperhatikan tingkah konyol Junmyeon, ia tidak bisa menahan tawanya setelah kejadian tersebut.

Dasar Junmyeon! Bukannya marah ia malah balik tertawa. Menertawai kelakuannya sendiri. Begitu selesai makan, Junmyeon dan Jisoo berniat ke ruang klub teater, sebelum itu terlaksana, Soojung mencegatnya. Ia mengingatkan soal pembicaraan penting yang perlu ia didiskusikan pada Junmyeon. Junmyeon tidak mengerti apa yang Soojung bicarakan, ia meraba ponsel dimana Soojung mengirimkan pesan juga telepon.

Eh, Junmyeon sadar ada sesuatu yang hilang, ternyata itu adalah ponselnya. oh tidak, ponselnya ketinggalan. Junmyeon panik bukan main, ia menunduk pada Soojung sebab kelupaan yang nembuat Soojung marah. Soojung menghela napas, ia hanya menepuk pundak Junmyeon.
” Sudahlah, tidak perlu. Hal ini kita bicarakan nanti saja.”
.
.
Hari sudah menjelang sore, Soojung bersiap membereskan tasnya dan bersiap menuju ke kafe. Pekerjaan OSIS tidak terlalu banyak hari ini, jadi bisa datang ke kafe lebih awal juga membayar shiftnya akibat sakit yang menderanya kemarin. Ia menelpon manajer untuk mengkonfirmasi, saat telepon diangkat, suara tawa manajer terdengar berbeda. Ia merasa manajer tahu sesuatu atau jangan-jangan…

“Maaf,manajer. Kemarin aku tidak sempat ijin.”
“Kukuku..tidak apa Soojung-a. Aku maklum kok, hihihi”
“manajer, ada yang lucu? atau..”
” Kau tahu? kau ini beruntung Soojung-a. Ah, mendengar suara itu aku jadi deg-degan, suaranya dalam dan seksi sekali. Kau tahu, dia yang mengijinkanmu semalam lewat telpon. Apa dia temanmu? atau jangan-jangan…”
“Aku tahu siapa orangnya, jangan berasumsi yang aneh-aneh, manajer. Oh ya, hari ini aku bayar dobel karena kemarin tidak datang, ya manajer?”
“Ya, tidak apa. Tapi kalau benar pacarmu, jangan segan beritahu..kukukuku—oh, soal itu. Paling kau ada sedikit kerja tambahan, tidak apa kan? Ini akan kumasukkan sebagai uang lembur.”

Sunyoung menghampiri Soojung, ia ingin mengajak Soojung pulang bersama. Ia mengintip dari kaca pintu panjang ruang ketua OSIS, tidak enak rasanya mengganggu Soojung, dari sana ia hanya mengawasi Soojung.

Terus memperhatikannya.

Soojung selesai menelpon, ia memasukkan ponselnya ke saku jas almamater. Ada satu hal yang hampir lupa, baju bebas untuk ganti, Soojung mengambilnya di laci meja ketua OSIS. Ia sengaja menyembunyikan baju itu supaya tidak ketahuan anggota OSIS lain.

Sunyoung bergegas sembunyi setelah tak sengaja mendengar percakapan Soojung dengan seseorang. Satu hal yang ia dengar dari percakapan itu adalah soal kerja. Tapi Sunyoung tidak mau berpikir negatif, mungkin ia salah dengar. Ya, mungkin salah dengar. Sunyoung lupa, ia sudah melewati jam pulang. Ia baru menyadari setelah melihat jam di ponsel, eh, ada panggilan masuk dan dering ponselnya terdengar keras, untungnya Soojung sudah keluar dari sana. Sunyoung pun bisa bernapas lega, barulah ia keluar dari tempat persembunyiannya.

” Ayah!! Aku segera pulang. Sudah ya!”Sunyoung menutup teleponnya. Sebelum keluar, Sunyoung mengobservasi di jendela, aha! Seungyoon masih di sana, ia sedang berbincang dengan temannya. Ini kesempatan emas, Sunyoung bisa ikut pulang bersama lagi.

Soojung masih kurang sehat, terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat, namun ia tetap memaksakan diri kerja karena terlanjur bilang akan bayar dobel. Ia menguat-nguatkan dirinya, menyemangati diri dan berkata ‘Kau baik-baik saja tidak apa’

Bukan kebetulan yang terencana, saat Soojung berjalan jauh dan sudah sampai halte bis dan naik, trio preman sekolahnya menaiki bis selang sepuluh menit setelah bis yang ditumpangi Soojung. Mereka berencana main ke Myeongdong untuk bermain di game center sekaligus jalan-jalan. Soojung tidak sadar akan kehadiran mereka. Sama sekali.

Soojung tiba di Moe Moe kafe tepat saat pengunjung mulai berdatangan, ia menuju ruang ganti, berganti baju serta menyimpan tasnya di loker. Selesai berganti baju, langsung menyambut para pelanggan di depan, kemudian mencatat pesanan, belum lagi ikut tantangan melawan pelanggan. Sekitar empat jam lebih ia harus bolak-balik seperti itu. Menjelang menit terakhir, pelanggan mulai berkurang, para pegawai pun bersiap pulang. Hal-hal seperti melap meja, menutup tirai mematikan lampu neon besar adalah tugas Soojung. Ini dikerjakan sebagai ganti absen. ia juga mendapat tugas membuang sampah, itu karena Soojung punya tenaga yang kuat untuk mengangkat sampah-sampah ukuran besar tersebut. Sampah sudah diikat dan dikumpulkan, tinggal membuangnya saja. Soojung menarik sampah-sampah menuju box besar pembuangan di belakang kafe. Eh ternyata…

Trio preman sekolah SMA Dongdam melewati Moe Moe kafe, di sana mereka terhenti. Mino, salah satu anggota geng itu menyadari seseorang sedang membuang sampah, ia mengenali pegawai wanita di sana. Ia tersenyum menyeringai, memberi kode dua temannya menghampiri.

“Aduh, aduh. Siapa ini? Teman-teman, kalian kenal dia?”
Soojung terdiam saat ia akan membuang sampah yang ketiga. Suara ini, serak-serak dalam dan angkuh, Song Mino. Itu pasti dia.
” Ketua OSIS SMA Dongdam, Jung Soojung. Lihat kostumnya, renda-renda, pakai bando telinga kucing.” Taehyun mulai mendekati Soojung, perlahan ia memojokan Soojung ke tembok.

Seunghoon memegang puncak kepala Soojung, tatapannya begitu meremehkan, menjatuhkan. Ia dipaksa jongkok hingga pandangan soojung terbatas pada sepatu converse biru dongker milik Seunghoon, Seunghoon sengaja mengotori sepatunya dengan lumpur.

” Ayo bersihkan! Jangan sampai ada noda sedikit pun!wajar melakukan ini, benar? Kalau tidak mau, jangan salahkan jika besok jadi headline.”

Darah di otak Soojung keburu mendidih karena kekurangajaran mereka, apalagi pakai acara mengancam segala. Sangat. Tidak. Lucu.

Mereka tertawa bersamaan, tatapan mereka makin memojokkan Soojung. Soojung bersiap kuda-kuda, namun mereka menahan Soojung, menahan kepalan tangan Soojung. Seunghoon menaikkan kedua tangan Soojung ke atas lalu menguncinya dengan tangan Mino. Soojung berusaha menendang mereka, mengerahkan segala tenaga yang ia punya.

Begitu mereka akan melancarkan kekerasan, dari belakang ada memukul tengkuk juga lutut, trio preman oleng terkena kayu, tubuhnyatertimpa kayu yang kebetulan ada disana. Soojung pun ditarik keluar, seseorang itu baru Soojung sadari setelah berlari cukup jauh. Sosok tinggi memakai jaket hoodie hitam, begitu ia melepas tudung , Soojung tahu siapa dia. Rambut pirang cerah, semakin terlihat ketika cahaya lampu jalan mengenai kepalanya. Ia menoleh, senyum tipis ditunjukkan pada Soojung, Soojung malah tertawa kecil.

” Kenapa tertawa, nona ketua?”
“Radarmu berfungsi cepat rupanya, hal kecil ini bisa dideteksi. Fuhh…bahkan aku telat menyadari bahaya yang mengintaiku.”

Soojung menghembuskan napasnya, ia mendudukkan diri di kursi taman. Sesuatu yang hangat berupa coat tebal menutupi seragam maid berlengan tiga seperempat. Soojung menatap Yifan, tubuh Yifan cuma berbalut kaos putih berleher setengah lingkaran dan celana jeans, jaket yang dikenakan Yifan pun, ikut melindungi rok setengah paha Soojung. Soojung merasa tidak enak, ia mengembalikan jaket hoodie Yifan.
.
.
Mereka berdua cukup lama bersantai di taman, Soojung berdiri. Ia berniat kembali ke kafe, tugasnya belum selesai. Ada satu kantong sampah belum dibuang. Soojung menyingkirkan jaket Yifan, menaruhnya di kursi. Yifan menggenggam tangan kiri Soojung, ia berusaha menahan Soojung.

” Nona ketua, ingatlah. Radarku akan selalu berbunyi, di mana pun itu.”
” Asal kau tahu saja, aku bukan gadis lemah. Hal sepele seperti tadi, diluar kendaliku, jadi…jika terjadi lagi aku akan melindungi dan membela diriku sekuat tenaga. ”
“Sekuat apapun, pasti ada saatnya membutuhkan pertolongan, nona..Soojung. Kau tidak bisa menampiknya.” Yifan mencium tangan Soojung, jaket hoodie diambilnya. Yifan pergi begitu saja, mereka berdua berjalan ke arah yang berlawanan.

                                                                                      ****

Pagi berbeda, berbeda dari yang lain. Aura liburan begitu terasa di SMA Dongdam, wajah-wajah murid sumringah, suara tawa bahagia mewarnai setiap sudut sekolah terutama murid kelas 2. Study tour ini, memang hal ditunggu-tunggu, kapan lagi liburan setahun sekali, seumur hidup pula. Semuanya harus dipersiapkan secara matang, salah satu kelas paling antusias adalah kelas 2-D. Bukannya soal study tour yang mereka pikirkan, lebih ke jadwal jalan-jalan. tempat wisata, dan juga makanan khas daerah. Rinciannya lengkap, dari A sampai Z.

Soojung masuk ke dalam kelas dengan aura seperti itu, padahal surat ijin kelas belum terkumpul semua, bisa dibilang ancaman batal ikut serta menghantui mereka. Dasar! Soal liburan mereka paling bersemangat, soal belajar? Jangan tanya, Soojung tahu apa reaksi mereka.

“Soojung-a!! Nanti di gunung Jiri, kau mau jalan-jalan ke mana? Kalau aku mau keblablabla..”Eunji mendatangi meja Soojung, matanya begitu berbinar, sangat antusias.

Soojung hanya ber-oh ria, menggangguk pada setiap ucapan Eunji. Ya, terserah saja, lihat nanti bagaimana study tour akan mereka jalani, apa masih bersemangat atau menyesali. Eunji pergi, ia berkeliling di dalam kelas, wajahnya ceria, tak henti bibirnya mengoceh soal liburan. suasana kelas begitu ramai, setelahnya…

Junmyeon masuk, ia berdiri dan membuat seiisi kelas menghentikan aktivitasnya. Ia membawa map, Chorong ikut berdiri di sana, mendampingi Junmyeon. Ia berdeham keras, pertanda ada hal penting akan dibicarakan.

” Teman-teman, dengar! Aku hanya bicara sekali, kumohon dengarkan. Soal study tour.. Jang ssaem memperingatkan terutama untuk kelas yang belum mengumpulkan surat ijin, kemungkinan bisa dibatalkan keberangkatannya. Kelas kita…termasuk salah satunya. Kumohon, mohon dengan sangat segera kumpulkan.” Junmyeon menunduk sembilan pukuh derajat.

Anak-anak sekelas, merapat dan berbicara sendiri pada teman di samping kanan kirinya. Apa yang didiskusikan?
Beberapa menit setelah diskusi, Baek Yerin, seorang murid perempuan angkat bicara.
“Hey, Junmyeon-a. Angkat kepalamu, kau membuat kami jadi tidak enak.”
” Bangunlah, lihat apa yang ada di depanmu.” Jong dae ikut menimpali.

Junmyeon mengangkat kepalanya, ia tersenyum lebar, hatinya tersentuh. Ternyata tumpukan surat sudah di atas meja depan. Chorong ikut terpana, ia tak menyangka teman-teman sekelas akhirnya menyadari, beban Junmyeon terangkat, rasa cemas akan batalnya study tour, hilang sudah. Tanpa sadar Junmyeon menitikan air mata, meski ia menahannya.

“Jangan menangis begitu, kau kelihatan jelek tahu.” kekeh Sungyeol.
” Aku tidak menangis, aku cuma terharu..hiks..”
treett..treettt…
“Selamat ultah Kim Junmyeon!! Papa kami sekelas..hahahaa…”
Lemparan kue mengenai kepala Junmyeon, selai coklat memenuhi wajahnya.
.
.
H-6 study tour
Sekolah mengadakan briefing demi kelancaran study tour. Soal acara di sana sedikit berubah, tapi bisa juga tidak tergantung situasi dan kondisi. Sekolah juga memperingatkan para murid supaya menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental. Sekolah bekerja sama dengan OSIS, mereka bertugas mengkoordinir, mengatur segala keperluan. OSIS mengadakan rapat koordinasi dan hasil rapat itu menyatakan OSIS punya tanggung jawab besar, makanya OSIS membentuk kelompok koordinator.

H- 3 Study Tour
Briefing terakhir sebelum keberangkatan, sekolah dan OSIS mengadakan rapat bersama. Pembagian tugas antara guru serta anggota OSIS ditentukan. Jika ada yang keberatan, harus dikatakan disini, karena ini penentuan yang penting. Segala urusan, keperluan, surat-surat, akomodasi harus sudah selesai. Para murid tidak lagi direpotkan biaya tambahan, uang yang terkumpul digunakan seefektif dan seefesien mungkin. Satu hal lain tidak boleh diabaikan soal keamanan, murid dipastikan aman, tidak terganggu selama study tour berlangsung.

D-Day Study Tour
Bis sudah datang, jumlahnya ada sembilan biah. satu bis untuk gurusedangkan delapan bis sisanya untuk murid, setiap delapan bis tersebut masing-masing ada koordinator. Koordinator itu terdiri dari guru dan anggota OSIS. Ketua koordinator dipimpin langsung oleh Chanyeol dan pelaksananya oleh Soojung. Jam setengah tujuh pagi Soojung dan kawan-kawan stand by di sekolah, menunggu murid-murid tiba. Satu per satu murid pun berdatangan, sebelum naik bis, mereka akan di absen koordinator kelas masing-masing.

Jam setengah delapan, bis berangkat meninggalkan sekolah. Suara riuh para murid, kesenangan mereka dan bahagia menghiasi perjalanan selama empat jam. Setiap bis punya acara sendiri untuk membunuh kebosanan, ada yang karaoke, bermain game, unjuk kebolehan, ada juga bercerita. Nah, dalam hal bercerita, murid-murid akan bercerita seram, disini mereka ditantang tidak boleh berteriak ataupun memasang wajah takut. Wajah mereka harus tenang, yang takut duluan akan dapat hukuman.

” Sudah tahu rules nya kan? Sekarang kita mulai.” Sunggyu menyalakan senter di depan wajah, membuat background musik horor demi mendukung.
” Dulu, di sebuah desa…”
.
.
.

Perjalanan wisata gratis seperti ini yang selalu ditunggu, bahkan bisa dibilang hanya setahun sekali tiap menjelang ujian tengah semester. Anak-anak kelas dua beruntung bisa menikmati, karena biasanya sekolah cuma mengadakan study tour ke kota sebelah, demi menghemat budget. Tumben-tumbennya mereka jadi royal begini.

Para siswa begitu antusias, tahun ini beruntung bisa study tour jauh dibandingkan pengalaman study tour kakak kelas mereka sebelumnya.
“Haha, pasti Yongjin hyung gigit jari setelah aku pulang dari sini.” celetuk seorang siswa berbadan kurus tinggi berambut cepak mengkilap yang duduk di samping Soojung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, siswa itu mendengar suara hembusan keras seperti orang menguap.Ups! Apa ia membangunkan naga yang tertidur? Bisa gawat suara cempreng serta falsnya membuat sang naga terbangun.
” Semuanya dengarkan! kita sampai tempat istirahat, waktunya cuma tiga puluh menit, manfaatkan dengan baik… dan… Jung Soojung haksaeng! Kawal mereka keluar dan pastikan mereka kembali ke bis tepat waktu!” perintah Jung ssaem. Soojung yang baru terbangun langsung sigap melaksanakan perintah meski kantuk masih menderanya.
” Baik, ssaem!” jawabnya lantang.
.
.
“Chanyeol-a, ini ulahmu kan?”Yifan menyeruput sekaleng kopi moccachino, ia bersender di samping kiri mesin tersebut sambil menunggu Chanyeol memilih minuman yang akan dibelinya. Sang empunya nama hanya menyengir lebar atas pertanyaan Yifan.

” Untuk apa? Kau sendiri tahu dalangnya siapa.” balasnya dengan senyuman gusi lebar.

Yifan menyusul Chanyeol yang selesai membeli jus mangga berkarbonasi lalu berjalan disampingnya, tanpa ragu menepuk pundak Chanyeol. Mereka jalan beriringan, terlihat dekat sekali, seolah atas pembatas tak kasat mata di sekeliling sehingga sulit ditembus. Mereka punya ikatan yang kuat melebihi sahabat, sepertinya begitu.

Hal tersebut menjadi perhatian juga obrolan para siswi yang dari tadi memandangi mereka dari stand makanan di rest area, gerak-gerik Chanyeol dan Yifan kerap menimbulkan salah paham diantara mereka. Apalagi rumor soal mereka berdua yang katanya maholah, pacaranlah sempat berhembus kencang.

Yah, pastinya orang populer tidak akan jauh dari namanya gosip, rumor atau apapun itu. Sudah jadi konsekuensi, bahkan konsumsi publik. Untuk hal satu ini, Soojung tidak begitu peduli, ia sudah kebal pada gosip-gosip yang didengarnya berulang kali. Sudah. Sangat. Sering.
“Kalian…tidak bosan?” Soojung mengorek sedikit telinganya.
“Ugh…sudah wajar kami membicarakannya. Yifan oppa itu..selebriti paling hits seantero sekolah, apapun tentangnya selalu menarik. Sekali-kali, coba deh perhatikan..kharisma..aura misterius..wajah tampan nan dinginnya..buat geregetan tahu!!” jelas Eunji antusias.
‘Ya, ya, kau mengatakannya karena kalian fans fanatik.’ ucap Soojung dalam hati. Soojung mengerti, sangat mengerti sekali. saking mengertinya ia hanya diam saja mendengar ocehan para siswi mengenai betapa sempurna si alien aneh.

Oh lagi-lagi ia menghabiskan waktu dengan sia-sia. Soojung hampir lupa ia ditugasi mengawas para siswa dan siswi selama jam istirihat, sudah lima belas menit berlalu, Soojung memilih bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan teman-teman sekelas untuk berpartoli sebentar, memastikan keberadaan mereka dimana saja.
” Aku pergi dulu. Kalian nikmati istirahatnya, ok? Bye, bye!”
“Ceritaku belum selesai! Soojungie!! Kau hutang padaku!”teriak Eunji sambil melambaikan tangannya.
” Kapan-kapan kudengar dengan senang hati. Tapi bukan sekarang, ya?”

                                                                                       ****

Jam menunjukkan setengah lima sore, supaya bisa mengejar ke tujuan tepat waktu, anak-anak kelas 2 harus berkumpul di tempat parkiran. Soojung beserta koordinator kelas mengecek bersama, untuk kelas 2-A hingga 2-C, lalu 2-E, siswa sudah berada di dalam bis, kelas yang sudah lengkap bisa menuju pintu keluar rest area. Sisa satu kelas, yaitu kelasnya, 2-D.
” Aduh, mereka ke mana sih? Sudah kubilang jangan keluyuran jauh.” keluh Soojung.
Soojung harap mereka sadar diri karena ini menyangkut kepentingan bersama. Apalagi ia ketua pelaksana, yang diurusi bukan kelasnya saja. Jongdae, pasti berkeliaran mencari snack, Sungyeol, bocah ini paling merepotkan, kalau menghilang tidak memberi jejak, Junmyeon? Jangan tanya, baru beberapa menit keluar dari restoran, ia lupa ke mana rombongan sekolah, malah mengikuti rombongan mahasiswa. Trio kwek-kwek, mereka kalau bergosip suka lupa waktu, paling ribet bawaannya.

Soojung menyerahkan kelas 2-D pada Seungyoon, karena dia punya tanggung jawab lebih penting daripada tanggung jawab pada kelasnya sendiri.

“Halo, Seungyoon-a! Maaf! Tadi keasyikan baca di toilet… hehehe..” dia muncul dari arah belakang restoran cepat saji, ditangannya bergantung goodie bag berisi komik-komik.

Seungyoon, selaku penanggung jawab kelas 2-D, menyemprot Sungyeol dengan omelan-omelan. Belum lagi, trio kwek-kwek, mereka baru muncul saat bis lain hampir berangkat, sedangkan Junmyeon? Aduh.. ketua kelas kok bisa menghilang begini? Dari tadi batang hidungnya belum kelihatan sama sekali. Untungnya bertemu Jisoo, baguslah. Hampir saja dia terbawa rombongan mahasiswa. Tanpa ragu Jisoo menyeretnya ke parkiran, di mana bis terakhir menunggu.

” Jisoo-a, penglihatanmu tajam juga. Lain kali sepertinya Junmyeon butuh teman sepertimu sebagai pengingat, atau paling tidak… jadi pengawal.”puji Seungyoon sambil menepuk-nepuk pundak Jisoo.

Setelah mengantar Junmyeon ke bis, ia berjalan menuju pintu keluar, sebab koordinator rombongan kelas 2-B, Sunyoung, dari tadi memanggilnya.

Rombongan sudah lengkap, mereka langsung berangkat meninggalkan rest area. Perjalanan masih panjang, kejadian-kejadian tak terduga akan menyambut dan mengiringi selama study tour. Apa yang mereka alami, pastinya sebuah kejutan…

Lihat saja.

– Tbc –

Wah, ga kerasa udah chapter 3 aja, nih..hehehe. Lihat antusias pembaca yg cukup tinggi, makanya bisa dilanjutin sampe chapter ini. semoga kalian bisa terus nikmatin dari chapter ke chapter ya. sebagai author, ini juga jadi penyemangat tersendiri.
Buat karakter pendukung, insyaalloh akan diberi porsi, jadi ga melulu karakter utama terus yang disorot. hmm…mungkin itu dari penilaian author sendiri.

Insyaalloh, author usahain chapter ke depan lebih baik.^^

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s