I Remember, I Realized

         I Remember, I Realized | parkhyenaKYU

i_remember_i_realized1

romance, drama, angst || [OC] Park Hye Na & Shin Nam Joo, [SJ] Kyuhyun, [SNSD] Seohyun | slight! [SJ] Yesung, Eunhyuk, Leeteuk, Ryeowook | slight! [RV] Joy & Irene, F(x) Victoria

Read this! to connect & understand storyline

    The cast belongs to God and their family, except OC belong to me.

” It’s over now”

After 6 month, 2015 xxth July

Di koridor Seoul Hospital Center lantai lima bagian ruang rawat dewasa, berjejer kamar pasien, tidak semua kamar di lantai itu terisi penuh, hanya ada empat penghuni termasuk seorang publik figur yang terbaring tak sadarkan diri. Tapi ia sudah sadar sejak seminggu lalu, setelah koma cukup lama hampir enam bulan.

Sosok tersebut perlahan membuka kedua mata, ia disambut langit putih polos berhias lampu neon. Belum lagi aroma obat memenuhi ruangan, ugh, membuat mual. Ia bangun dari ranjang, lalu duduk di pinggir, melihat ke arah lain.

Ingin sekali rasanya keluar mencari angin segar, begitu memandang jendela kamar rumah sakit di samping meja. Kyuhyun merasa terlalu lama berbaring, memaksakan diri bangun dari ranjang. Kepalanya masih berdenyut-denyut saat berdiri, kaki berjalan tertatih ke pintu, menggeser perlahan pintu kamar. Ia keluar menuju lift, masuk bersama-sama pasien berkursi roda dan memencet lantai delapan, disana ada taman terbuka yang ditunjukan oleh pasien bocah laki-laki.

Seperti dunia lain, bunga matahari juga rumput sintesis terhampar indah di depan Kyuhyun. Kursi taman dihiasi lampu penerangan bergaya vintage, berdiri manis di samping kursi, belum lagi pemandangan yang disuguhkan. Taman tersebut menghadap gunung yang berselimutkan kabut, udara yang bertiup dari arah gunung, begitu sejuk.

Suasana ini…

Dalam pikiran Kyuhyun, suasana ini, mengingatkan pada seseorang. Dari atas sana, sambil menikmati udara segar, memandangi orang-orang di bawahnya, hingga ia terpaku pada sosok wanita bertopi yang sedang piknik di taman.

Noona, noona! Hae Min buang sampah sembarangan, lihat! Buangnya disana.”

“Hae Min, ambil lagi bungkus permennya. Katanya cinta lingkungan kan? Hye Na noona nanti beri hadiah kalau Hae Min menurut oke? Hae Min yang manis” Ia sambil menepuk-nepuk pipi seorang bocah laki-laki berkupluk abu-abu.

” Ji soo juga, jangan mengerjai yang lain. yang lain jadi terganggu”

Matanya juga memicing gemas pada anak yang melaporkan Hae Min.

Hae Min mendongakan kepalanya, saat itulah ia melihat figur seorang pria tinggi bermuka agak congkak yang tertangkap indera penglihatannya. Apalagi dia menggunakan teropong, jadi semakin kelihatan.

Noona…itu Kyuhyun ya? Kyuhyun Super Junior. Ia sedang lihat ke sini, itu di atas sana! Huwaa~jarang bisa bertemu langsung.”tunjuk Hae Min ke taman bunga matahari di lantai delapan gedung, sambil menggoncangkan pundak Hye Na. Ia menolehkan kepalanya ke arah gedung lantai delapan, dari sana sesosok pria tinggi menatap intens. Hye Na heran, kenapa ditatap seperti itu.

Ia —Kyuhyun—meneliti setiap gerak-gerik gadis muda yang memakai topi hijau tentara, sosok itu menarik perhatiannya. Sekelebat memori menghampiri otaknya, sebuah bayangan buram berbentuk seperti gedung. Kepala Kyuhyun mulai berdenyut, sebuah suara teriakan terdengar, suaranya tidak jelas, itu seperti sebuah makian. Kyuhyun menekan kepala untuk meredam rasa sakit yang menyerang. Ia sampai meringkuk ke bawah, memutar badan dan menyelonjorkan kaki, tak lama keringat dingin mengucur deras.

.

.

“Ahra unnie! Unnie!”Seohyun berlari ke arahnya dan menepuk pundak Ahra, barulah tersadar dari kebingungan.

” Oh..Seohyun, maaf. Dari tadi aku mencari Kyu tapi tidak menemukannya, tadi lihat dia lewat?”

Seohyun menggeleng.

Ahra mengerenyitkan dahi, berpikir kemungkinan lain, kalau dari bawah belum bertemu..berarti dia ke lantai atas. Ahra serta Seohyun berniat masuk lift lagi, kemudian mereka berpapasan dengan seorang anak lelaki berjaket cardigan abu-abu berusia sekitar sepuluh tahun dan ia membicarakan seseorang yang memandang aneh pada kakak relawan bilang kalau seorang  anggota boyband Super Junior, Kyuhyun, ada di sana.

“Hey, nak. Di mana orang yang dibicarakan tadi? Apa kau tahu tempatnya?”

Anak itu menunjuk ke lantai delapan di lift, Ahra tersenyum sambil mengelus-gelus lembut kepalanya sebagai tanda terima kasih. Ahra bergegas menuju lantai delapan bersama Seohyun.

Akibat nyeri yang begitu hebat, Kyuhyun dibawa kembali kamar, mereka menggunakan kursi roda yang kebetulan kosong di dekat koridor menuju lift. Sampai di lantai lima, mereka masuk ke dalam kamar. Eh, tak terduga Ahra mendapat kabar sang suami dinas, buru-buru segera pulang ke rumah membereskan pakaian suami tercinta hari itu juga.

.

“Hyukjae-a, hari ini mau menjenguk Kyu? Ayo pergi bersama setelah kau selesai rekaman.” ajak Leeteuk saat sedang di ruang latihan.

“Jongwoon-a, kau juga ikut kan?”

“Ya. Tapi menyusul setelah selesai syuting, kita bertemu di lobi rumah sakit saja—ah jangan, di ruang tunggu saja.”

Eunhyuk melihat jam tangannya, ” Ok, kita bertemu jam lima sore. Soal bingkisan biar aku yang beli”

Yesung bangkit dari duduk dengan membopong tasnya, Leeteuk juga bersiap berdiri sedangkan Eunhyuk masih di ruang latihan menyelesaikan koreografi untuk lagu terbarunya. Yesung dan Leeteuk keluar, arah menuju lift, bertemu Irene dan Joy, junior group mereka. Mereka sama-sama turun ke bawah, di dalam lift Irene menceletuk,

“Oh ya Leeteuk sunbae, Yesung sunbae. Bagaimana Kyuhyun sunbae? Apa dia sudah sadar?”

Leeteuk membalas pertanyaan Irene ramah, “Ah, soal itu belum dipastikan sih. Hah…Rasanya rindu tidak mendengar omongan tajamnya, iya kan Jongwoon-a?”

” Hm.”

” Oh bagaimana…comeback kalian? Lan—”

Mereka sudah sampai di lantai dasar, dan berpisah disana.Joy dan Irene membungkukan badan ke kedua senior di SM tersebut.”Sunbae, kalau ada waktu kami juga akan menjenguk, kalau begitu kami permisi dulu.”ucap Irene dengan membungkuk.

” Ah, ya. Terima kasih atas perhatian kalian. Oh… hati-hati di jalan.”Leeteuk melambaikan tangan pada keduanya.

.

.

Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar jelas dan itu adalah Ahra. Tuan Cho membuka gerbang, mempersilakan mobil sedan hitam milik Ahra masuk ke halaman rumah. Ahra masuk ke dalam rumah.

Ahra duduk di sofa krem di ruang tengah sambil menengadahkan kepala, memejamkan sebentar matanya. Nyonya Cho mengambilkan segelas air putih ke putri sulungnya tersebut, Ia duduk di samping Ahra, menunggu kabar baik dari rumah sakit.

Ahra meneguk sedikit air putih di depannya.

” Tumben pulang, kenapa?”

” Yoon Jae dinas ke luar kota, aku pulang buat beres-beres baju.”

” Eh, ngomong-ngomong…Kyu bagaimana? Ada perkembangan?”

Ahra terdiam, napasnya terdengar tak beraturan. Sorot mata seperti menghindar, ketika ingin berdiri—inginnya menghindari pembicaraan—malah dicegah.

“Ada apa dengan—katakan! Pasti ada sesuatu kan? Jangan bohong pada eomma!”selidiknya tajam.

Tuan Cho menengahi,”Ahra, jangan buat kami khawatir, cepat katakan kondisi Kyu yang sebenarnya”

“Sebenarnya dia…tadi mengalami sakit kepala yang begitu hebat. Dokter bilang itu akibat gumpalan darah di otak, jadi kesulitan mengingat. Lebih tepatnya..Kyu mengalami amnesia.”

“APA? Am…nesia?”

‘ Oh..ini kesempatan bagus. Keadaan ini bisa kumanfaatkan untuk membuat Kyu menceraikan wanita abnormal itu.’ pikir Nyonya Cho dalam hati.

Evening, 04.35 pm

Hye Na kembali dari rumah sakit setelah menghibur anak-anak penyandang kanker otak, ia memandang sebentar lantai delapan dari bawah, ia teringat perkataan Hae Min soal artis yang memandanginya dari atas sana. Dan…di kepalanya terngiang-ngiang nama Cho Kyuhyun, pria —yang masih—berstatus suaminya. Pikiran Hye Na seketika buyar, saat ada sesuatu yang berbunyi di dalam tas.

Sebuah telepon berdering dari tas selempang kulit hijau toska yang dipakainya, memang adik yang satu ini senang membuatnya lari marathon, belum sempat makan siang, ia harus mengantarkan ponsel Sunyoung yang ketinggalan saat berkunjung ke rumah seminggu yang lalu.

Di saat yang sama…

Seohyun mendorong kursi roda dan turun dari lantai lima, tempat Kyuhyun dirawat. Kebetulan Kyuhyun ingin keluar setelah bangun, jadi Seohyun ikut jalan-jalan dengannya. Ketika ia dan Kyuhyun turun ke lobi, pintu lift yang menghadap pintu keluar , disanalah ia bertemu Hye Na, Hye Na berdiri di seberang pintu tepat di tengahnya. Pertemuan dua pasang mata itu tak terelakkan. Ekspresi Hye Na berubah, belum lagi Kyuhyun, ia menengadahkan kepalanya sehingga terlihat sosok Hye Na yang sangat jelas.

“Oppa. Tadi kan minta jalan-jalan ke taman samping lobi rumah sakit? Berdiri disini, bisa menghalangi orang yang mau masuk. Ayo!”Seohyun mendorong kursi roda, melewati Hye Na yang berdiri mematung.

Belum jauh mereka pergi, Hye Na membalikkan tubuhnya,” Kalian berdua terlihat baik-baik saja, kukira aku akan bertemu kalian dalam bentuk yang lain.”ucapnya basa-basi.

Mendengar Hye Na berbicara begitu, tangan Seohyun bergetar, ia hampir melepas pegangan kursi roda.

.

.

Malam sudah tiba, tapi ingatan itu masih menghantuinya. Kyuhyun berusaha menekan ingatan aneh itu, ini berhubungan dengan gadis tadi siang, ia mengingat jelas wajah kesal juga kemarahan gadis bertopi hijau tentara memakinya, kenapa gadis ini ada di ingatannya? Apa hubungan dia dengan gadis itu?

Tapi siapa?

Kondisi fisik Kyuhyun semakin membaik, tapi tidak dengan ingatannya. Mengenai siapa orang yang menyebabkan dia begini pun, ia tidak ingat, padahal ia melihat wajahnya langsung. Herannya kerabat, rekan seprofesi, juga Hyung satu grupnya mudah dikenali. Kyuhyun merasa ada yang aneh, ya ada yang aneh.

                  – I Remember, I Realized –

“Wah..ternyata perkembangan kesehatan Cho Kyuhyun-ssi, semakin membaik. Kemungkinan dia bisa pulang besok lusa, dan..soal—”

“Ah, soal ingatannya ya, Songsaengnim?”

Dokter Shin menggangguk pelan.”Ya. Tinggal ingatannya yang belum pulih, gumpalan darah di otaknya memang berangsur hilang, tapi…ada sebuah gumpalan kecil yang masih menggendap”ia menunjukkan hasil X-Ray ke Ahra.

“Apa ini ada hubungannya dengan ingatan yang hilang? Aku merasa ini berhubungan, dok. Aku yakin.”

“Kita belum tahu. Tunggu perkembangan selanjutnya saja. Jangan berkesimpulan terlalu cepat, Cho Ahra-ssi.”

August xx, 10.35 am, Seoul Hospital Center

Siang ini Kyuhyun sudah bersiap untuk pulang, dokter menyatakan dia sembuh, namun ia dianjurkan untuk cek kesehatan terutama soal gumpalan darah di otaknya, juga tulang punggung. Ia dibantu kakak dan ayahnya untuk membereskan barang, Kyuhyun hanya duduk di kursi roda. Setelah membereskan Ahra mendorong Kyuhyun menuju pintu keluar. Tuan Cho dan Ahra terlihat lega, akhirnya ia bisa keluar dari rumah sakit. Ia tahu putranya tidak tahan bau rumah sakit, makanya keluar dari sini saja sudah angin segar bagi Kyuhyun.

.

.

Nyonya Cho sudah menyiapkan pesta kecil-kecilan menyambut kepulangan putranya dari rumah sakit, menyiapkan hidangan favorit putranya juga cheese cake kesukaan Kyuhyun. Wajah nyonya Cho begitu sumringah serta bahagia, putranya bisa kembali berkumpul di tengah-tengah keluarga. Suara klakson mobil membuat nyonya Cho tidak sabar siapa yang datang.

Ia keluar rumah memastikan siapa yang datang. Nyonya Cho bisa melihat jelas siapa yang duduk di kursi depan, dia Cho Kyuhyun, putra kesayangannya. Kepala Kyuhyun menyembul dari kaca mobil, menebar senyum pada nyonya Cho, ibu tercinta.

Thrusday, After 2 weeks

Kyuhyun sudah pulih seperti sedia kala, dia mulai disibukan dengan proyek album solonya yang akan kelar sebentar lagi, aransemen juga take vocal sudah ia jalani.  Selain album solo, ia juga dihadapkan dengan konser subgroupnya yaitu K.R.Y, bertajuk Phonograph. Konser ini akan diselenggarakan di beberapa negara Asia, demi itu ia berusaha memulihkan kondisinya.

Dalam menjalani latihan, Beberapa kali ia rehat karena nyeri yang tiba-tiba menyerangnya. Wanita dalam ingatan itu terus saja muncul, apalagi frekuensi kehadiran wanita tersebut ke gedung SM semakin sering. Membuat kepalanya terus memutar masa lalu, dimana ia dan wanita tersebut ada disana.

Suatu ketika mereka berpapasan di depan lift, Kyuhyun hendak latihan vokal bersama rekan satu subgroupnya, Ryeowook dan Yesung. Wanita itu-Hye Na- berada di sampingnya, ia mau mengantarkan bekal adiknya yang tertinggal di rumah, sekalian mengunjungi Sunyoung. Lift pun berhenti di lobi, orang-orang bergegas keluar begitu pintu lift terbuka. Hye Na dan Kyuhyun masuk ke dalam lift, di dalam lift, Kyuhyun tanpa henti memandangi Hye Na.

Kyuhyun memang ingin mengatakan sesuatu, tapi ia bingung memulainya. Ia berdiam cukup lama, hingga sampai ke lantai tujuh, lantai tujuan Hye Na.Saat Hye Na akan keluar, barulah Kyuhyun buka suara.

” Aku yakin kita pernah bertemu, Park Hye Na-ssi“Kyuhyun menahan Hye Na dengan mencengkram pergelangan tangannya. Hye Na perlahan melepaskan tangannya dari Kyuhyun, melepaskan dengan kasar.

“Bertemu katamu? Dasar pura-pura!”

“Siapa yang paling tersakiti… SEHARUSNYA KAU TAHU! CHO KYUHYUN BODOH! KAU MELAKUKANNYA KARENA BOSAN KAN?! BOSAN DENGAN KEPRIBADIANKU YANG POSESIF?”

” Kenapa tidak akui saja, Cho Kyuhyun? KENAPA?! Kalau tidak mencintaiku… katakan! BUKAN SEPERTI INI CARANYA! AKU MUAK TERUS DIBOHONGI…DICURANGI!”kedua tangan Hye Na menarik kaos belang Kyuhyun.

Hye Na pergi, dari ujung mata kanannya aliran air mengalir membasahi pipi. Kyuhyun memandang bingung Hye Na yang tiba-tiba membentaknya. Apa yang sudah ia lakukan? Kenapa Hye Na sangat marah padanya? Apa maksudnya Dia yang paling tersakiti? Bosan? Posesif? Pertanyaan itu membayangi pikiran Kyuhyun, ia berusaha mencari jawaban, tapi belum juga ditemukan.

Kyuhyun turun di lantai enam, setelah ia mendapat telepon dari Ryeowook yang menghubunginya dari tadi. Wajah Kyuhyun tidak terlihat senang hari ini, bentakan Hye Na terus terngiang di kepala. Tangannya terus memukul tembok, mengigit bibir bawahnya. Ia sampai melewati ruangan tempat latihan vokal, melewati cukup jauh. Lalu sebuah suara membuyarkan lamunan Kyuhyun.

“Mau ke mana? Latihannya disini! Ayo kemari!”

Kyuhyun menoleh, ternyata itu suara Yesung hyung. Dan dia baru sadar sudah berjalan jauh, Kyuhyun mendatangi panggilan Yesung. Dia masuk ke dalam ruangan bersama Yesung , beberapa menit disusul Ryeowook.

Hye Na tanpa sadar menitikkan air mata ketika keluar dari lift, Victoria, salah satu member f(x) yang kebetulan keluar dari salah satu ruangan, memergokinya. Dalam sekejap, Hye Na menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.

Bahkan di depan Victoria pun ia melakukannya, berpura-pura tersenyum. Victoria bertanya khawatir padanya, ia mencoba menenangkan Hye Na, namun Hye Na bilang dia tidak apa-apa. Meski Victoria yakin kalau Hye Na baru mengalami kejadian buruk.

                   – I Remember, I Realized –

Hari H konser KRY yang bertajuk”Phonograph” semakin dekat, itu berarti latihan juga harus intensif. Kyuhyun masih agak terbata, juga suaranya yang agak datar membuat latihan jadi berjalan cukup lama belum lagi sinkronisasi vokal antar member KRY sedikit terganggu karena Kyuhyun terkadang lupa lirik. Ryeowook juga Yesung terus menyemangatinya, mereka suka memberi lelucon supaya mood Kyuhyun kembali dan bisa mengingat liriknya. Sejauh ini usaha mereka berhasil, Kyuhyun bisa melakukannya.

“Apa ingatanmu belum pulih sepenuhnya? Kepalamu ini tidak apa-apa?” Ryeowook mengelus-elus kepala Kyuhyun disela istirahat latihan vokal. Kyuhyun hanya mengangguk pelan.

“Ya, syukurlah kalau baik-baik saja. Pertahankan ini hingga di panggung nanti, ingat konsernya dua hari lagi.”timpal Yesung.

Ryeowook dan Yesung berdiri dari duduknya, bersiap untuk latihan lagi. Tiba-tiba kaos keduanya ditarik Kyuhyun, tatapan penuh keingintahuan terpancar dari kedua mata Kyuhyun yang ditujukan pada kedua hyungnya tersebut.

“Hyung..aku ingin tanya sesuatu”

“Kalian tahu siapa Park Hye Na?”

“Oh, mantan trainee itu kan? Yang dulu sempat buat kehebohan diatas atap gedung? Tentu saja kenal.” Yesung menjentikkan jarinya.

“Kyu, kau tidak kenal Hye Na? Masa tidak ingat siapa dia? Dia kan—”Yesung menyenggol pundak Ryeowook karena pertanyaannya yang to the point itu.

Kyuhyun memandang bingung, rasa nyeri muncul begitu nama Hye Na disebut, Kyuhyun mulai memegangi kepalanya. Ryeowook tahu ini pertanyaan yang to the point, bukankah penting ia harus mengingatnya? Masa dia tidak ingat istrinya sendiri? Hingga Ryeowook sadar ia berkata seperti itu tanpa memperhatikan situasi. Dan juga kondisi.

Ryeowook memeluk Kyuhyun sambil berdiri, tangannya menepuk-nepuk pundak kanan Kyuhyun. Kyuhyun membalasnya dengan anggukan,”Aku penasaran, soalnya kemarin lusa bertemu dengannya di lift, entah kenapa raut wajahnya penuh rasa kecewa, mengumpat serta mencaci makiku.”

Dia menenangkan Kyu dengan kata-kata bijaknya,” Hye Na, wanita yang kau maksud itu…amarahnya meledak bukan tanpa alasan, di hati terdalam menyimpan rasa sakit yang menumpuk. Yah…kau mungkin mengingatkannya pada seseorang, seseorang yang membuatnya sakit hati.”

‘ Sakit hati? Padaku?’

Same day as K.R.Y Phonograph Concert

Di ruang tv panti, tak sengaja menonton acara showbiz yang ditayangkan sebuah stasiun tv, tv tersebut menayangkan persiapan konser K.R.Y. Sang wartawan kemudian mewawancarai seorang personil K.R.Y yaitu Kyuhyun. Belum dimulai, Hye Na sudah terlanjur naik pitam. Changmi, gadis remaja yang sedang menonton bersamanya, memandang takut, karena alis mata Hye Na menaut tajam belum lagi tatapan dalam penuh amarah. Sebelum  makin memanas, Hye Na pun pamit pulang, dia tak ingin orang awam jadi pelampiasan. Hye Na putuskan meluapkannya di tempat yang sepi.

‘Ya tuhan, emosiku tidak tertahankan begitu melihat wajahnya. Kenapa dia malah muncul ketika aku berusaha melupakan?’

Hye Na menarik napas panjang memandang langit di sekitar sungai Han, ia menenggelamkan wajahnya sambil menangis. Sesegukan serta cengukan mengiringi tangisannya, hampir saja bersin keluar sebelum orang ini menahannya. Hye Na menoleh ke seseorang, matanya tertuju pada jas dokter di tangan kiri serta name tag yang tertulis disana.

Dia menyampirkan jas dokternya di pundak Hye Na, Hye Na enggan awalnya tapi jas itu sudah terlanjur di pundaknya. Shin Nam Joo. Pria ini selalu tahu kebiasaan Hye Na, akhir-akhir ini dia dan Hye Na bisa dibilang dekat. Karena Hye Na dan Nam joo terlibat di kegiatan sosial baik di rumah sakit maupun di luar.

“Cho Kyuhyun. Dia kan orangnya? Kau tidak mungkin menangis sesegukan begini kalau bukan karena dia.”tebak Nam Joo.

Oppa, ayo kita kencan.”

Nam Joo menanggapi candaan Hye Na, ” kekeke…kau bagaimana sih? Selera humormu payah.” Hye Na memajukan badannya, mendekatkan diri ke Nam Joo. Tapi Nam Joo mendorongnya pelan, pertanda ia tidak menanggapi ucapan Hye Na.

” Kau…pasti sedang mabuk, ayo kuantar pulang!”

Nam Joo menarik lengan Hye Na, dia masukkan Hye Na ke dalam mobil sport abu metaliknya. Dia akan mengantar Hye Na pulang, walau wanita tersebut bersikeras tidak mau dan terus merancau. Beberapa saat kemudian ia tenang seperti biasa.

Oppa, sebelum pulang… antar aku ke apartemen. Ada sesuatu yang perlu aku lakukan. Dan… tunggu sebentar di basement, jangan pergi ke mana-mana.”

“Hye Na-a, aku juga ada perlu denganmu. Aku ingin memberitahu.”

Oppa mau bicara apa? Kenapa tidak sekarang?” Hye Na sedikit menuntut.

” Kubilang nanti saja, sekarang kenakan sabukmu!”

Nam Joo memacu mobilnya sebelum Hye Na bertanya lebih jauh lagi. Raut wajah Nam Joo sangat serius dan fokus, jadi, otomatis Hye Na tidak banyak bertanya supaya tidak mengacaukan konsetrasi Nam Joo.

.

.

Nam Joo memarkirkan mobilnya, lalu menurunkan Hye Na. Ia menunggu di mobil sesuai keinginan Hye Na. Hye Na masuk ke ruangan kaca, di mana lift ke lantai atas berada, ia langsung masuk ke dalam lift begitu pintu lift sebelah kiri terbuka lebih dulu.

D-Day K.R.Y Phonograph Concert

Stadium sudah penuh sesak oleh penonton dan mereka meneriaki member favorit mereka, lightstick dan banner pun diangkat tinggi-tinggi. Fans sudah tak sabar menantikan konser tunggal subgroup vokal Super Junior yang satu itu. Panggung serta tata lampu sudah siap, tinggal menunggu pembukaan konser dan kehadiran sang artis. Sebelum pembukaan, demi mempersiapkan sang artis naik panggung, ditampilkanlah sebuah intro. Disana satu persatu member menunjukkan aktingnya.

Tibalah saat yang ditunggu bintang konser hari ini, mereka satu-satu muncul dari bawah panggung. Penonton pun langsung berteriak histeris begitu idolanya di atas panggung. Mereka bertiga dengan profesional, menghibur penonton selama dua jam lebih.

.

.

Yesung menegak air putih begitu banyak untuk mengurangi dahaganya. Kyuhyun cuma diam, sesekali dia menghembuskan nafas. Ekspresi Kyuhyun datar, kentara sekali bedanya dibandingkan Ryeowook dan Yesung yang antusias menceritakan kejadian-kejadian lucu selama konser. Bukannya dia tidak tertarik, selama konser ia terus memikirkan seseorang. Seseorang yang membentaknya di lift, ia sangat penasaran, kenapa dia dibentak.

“Bilang manajer aku pulang duluan. Dah!”

“Kyu! Mau kemana malam-malam begini? Minta manajer mengantar—”belum selesai Yesung bicara, Kyu mengambil jaketnya dan meninggalkan ruang ganti.

Kyuhyun pulang ke rumahnya mencari bukti, dia mencari bukti tentang Hye Na. Dengan sigap, dia masuk kamar, menguncinya supaya tidak ada yang mengganggu. Dia mengobrak-abrik laci di samping ranjang, sampai lemari, tak luput dari pencariannya.

Pintu kamar Kyuhyun digendor seseorang, ia berdecak kesal ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya.

“Ini aku, kakakmu. Apa yang kau lakukan di dalam? Kenapa beris—”

Kyuhyun membuka pintu, “Aku sedang mencari sesuatu, kalau noona tidak ada urusan, kembalilah ke kamar.”Intonasi bicara Kyuhyun menaik.

“Kau cari apa? Mungkin aku bisa bantu.”

” Apa saja yang berhubungan dengan seorang wanita bernama Park Hye Na, aku harus mencarinya.”

“Noona… tahu?”

‘Sudah kuduga, cepat atau lambat dia akan ingat.’

Ahra menarik tangan Kyuhyun, dia membawa Kyuhyun keluar rumah. Ahra menyalakan mobilnya, ia menyuruh Kyuhyun masuk ke dalam mobil. Tanpa ragu, Kyuhyun menuruti kakaknya, ya mungkin dia memang tahu. Tahu apa yang Kyuhyun inginkan. Suara knalpot mobil yang kencang terdengar, tapi tidak sampai membangunkan kedua orangtua mereka yang sudah terlelap.

Mobil sedan Ahra menembus pekat serta dinginnya jalanan, ia tahu hari ini pasti akan tiba. Ahra terus memacu mobilnya, di atas batas kecepatan normal. jantung Kyuhyun tambah berdebar kencang, belum lagi sakit kepala yang muncul tiba-tiba.

“Kau ingat sesuatu? Katakan padaku!”

“Jujur, aku memang ingat, noona. Tapi…aku belum jelas, kenapa waktu itu aku berkendara kencang sekali? Karena apa? Yang jelas ada yang membuatku sangat cemas, hingga aku memacu kendaraan tinggi, melebihi batas maksimum.”jelas Kyuhyun perlahan.

Dalam waktu setengah jam Kyuhyun dan Ahra tiba di sebuah apartemen setengah lingkaran, Ahra masuk ke basement parkir, mereka memilih parkir dekat pintu masuk ke arah lift. Kedatangan mereka ternyata diketahui oleh Nam Joo, dia mengenal salah satu dari mereka. Cho Kyuhyun. Seorang pria yang selalu disebut-sebut Hye Na, pria yang membuat hidup Hye Na berantakan.

Di dalam sana, Hye Na masih sibuk membereskan barang-barangnya di apartemen, memasukan satu persatu bajunya yang tertinggal di kamar utama. Hye Na tidak sadar sejak dia masuk, dia lupa menutup pintu, suara langkah kaki perlahan terdengar memasuki apartemen. Hye Na mengintip dari balik pintu kamar.

Disusul suara seorang pria yang menimpali,”Apa noona yakin disini?”

“Kyu! Coba kau periksa ke sana.”Ahra menunjuk ke kamar di mana Hye Na berada. Hye Na menahan pintu kamar sekuat tenaga, begitu tahu Kyuhyun menghampiri dan coba membukanya.

Ketika Hye Na menahan sekali lagi, malah terdorong dan terjatuh. Hye Na bersembunyi di dalam selimut, menarik erat-erat selimut tersebut, enggan menunjukkan batang hidungnya sedikit pun.

Ahra menghampiri kamar utama, setelah ia mendengar panggilan Kyuhyun. Dia membuka selimut, mengenali postur tubuh terutama kaki jenjang dan kaos kaki polkadot hitam putih yang dikenakan, Ahra sangat jelas mengingatnya. Punya Hye Na hitam putih, sedangkan Kyuhyun, putih hitam. Kaos kaki ini adalah hadiah pernikahan Ahra untuk Kyuhyun.

Hye Na bersembunyi di balik selimut. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Dengan sangat terpaksa Ahra membuka selimut, Kyuhyun langsung terdiam dan terpaku ketika tahu siapa orang yang bersembunyi barusan.

Matanya tidak memandang ke Kyuhyun, ia merangkak  ke sebelah kanan untuk mengambil koper ungu pastel di seberang ranjang. Ia turun dari ranjang, berjalan ke arah yang berlawanan.

” Aku masih ingat, dua hari yang lalu kamu membentakku di lift. Sekarang aku mau tanya, apa alasanmu? Aku salah apa padamu? aku berhak mengetahuinya.”

Hye Na tertawa ketir, Kyuhyun tidak tahu kenapa balasannya seperti itu. Dia—Hye Na— hanya menganggap ucapan Kyuhyun sebagai lelucon, layaknya lelucon di April Mop. Kyuhyun kembali bicara, kali ini Hye Na malah bengong, tatapan nanar begitu jelas, setelah ia mendengarnya.

– I Remember, I Realized –

” Fuh…ingatan begitu juga sakit kepala menyebalkan ini… membuatku terganggu, kumohon…bisa kan beritahu apa alasannya? Jangan membuatku tambah bingung.”

‘Apa maksudnya ingatan? Sakit kepala? Sandiwara apalagi ini?’

Hye Na menyeringai sinis.

.

.

Kyuhyun belum dapat petunjuk tentang ingatannya, walaupun ia sudah bertemu Hye Na, gadis yang menjadi kunci utama ingatannya yang hilang. Dalam van menuju agensi S.M, ada ingatan lain muncul di benaknya, sebuah koridor remang-remang dengan seseorang yang menarik lengannya dan berhenti di depan pintu, dia mirip Seohyun, member termuda Girls Generation.

Sampai di kantor S.M, naluri Kyuhyun menuntunnya untuk mencari tempat yang sesuai dengan ingatan. Koridor panjang dengan lampu remang-remang, di mana itu? Kyuhyun masuk ke dalam lift, ia menekan acak lantai. lantai empat ditekan, Seohyun tiba-tiba masuk sebelum pintu lift tertutup. Bibir Seohyun tersenyum lebar ketika Kyuhyun di depan mata. Ia kembali menyenderkan kepalanya, tanpa malu.

Seohyun menunjukkan ekspresi menyeringai, tawa kecilnya terdengar begitu misterius. Kedua tangan Seohyun mengarah ke pipi Kyuhyun, mata mereka saling bersiborok, Kyuhyun merasakan dia tahu soal kejadian yang menimpa enam bulan lalu. Dia sama seperti Hye Na, punya peran besar di sana.

Tanpa komando, Seohyun mencondongkan tubuhnya dan mencium bibir Kyuhyun. Sama seperti setahun lalu ketika Hye Na memergokinya berciuman dengan Seohyun. Sebuah ciuman mesra bagaikan sepasang kekasih, ya kekasih. Tepatnya kekasih gelap.

” Ini yang oppa maksud kan? Bagaimana? Sudah ingat?” tanyanya di sela-sela ciuman. Kyuhyun melap bibirnya kasar. Dari semburat pipinya muncul warna merah tua, tanda ia marah karena merasa dilecehkan.

” Oppa tidak sadar.. mengkhianatinya ?”

                                                                   – I Remember, I Realized –

Siang itu dia bermaksud menemui Hye Na, menantunya. Sebuah skenario ia siapkan untuk membuat bukti palsu tentang Hye Na, semuanya disembunyikan rapi dalam tumpukan map. Map tersebut berada dibawah map berisi kontrol kesehatan Kyuhyun.

Mobil sedan putih Kyuhyun dipanaskan supir sebentar, selang waktu sepuluh menit mobil keluar, tepat ketika nyonya Cho keluar rumah. Kyuhyun dan nyonya Cho langsung masuk ke dalam mobil lalu berangkat. Sesampainya di rumah sakit, nyonya Cho menyuruh Kyuhyun menunggu di ruang dokter, eh, kebetulan ada telepon. Dia membalikkan badan, berjalan pelan menjauhi Kyuhyun. Ternyata telepon tersebut….

Hye Na, putuskan sekarang. Atau kau menyesal nanti. Jadi..lebih baik akhiri saja.

“Ya, aku harus memutuskannya. Lagi pula, aku ingin beban berat di pundak segera hilang dan bisa hidup normal.”

‘Cho Kyuhyun, aku tak bisa menunggu lebih lama.’

Hye Na mantap terhadap keputusannya, ia akan katakan itu pada Nyonya Cho. Ia menekan nomor di ponselnya, nomor Nyonya Cho, mertua Hye Na.

” Aku bersedia melakukan permintaanmu… bercerai dengan Kyuhyun. Asalkan penuhi syaratku dulu.”

” Gadis pintar. Oh sekalian bawa surat itu dan… pastikan kau  menandatanganinya. Aku akan menemuimu segera, di tempat biasa.”

….dari Hye Na. Nyonya Cho tersenyum puas, ia tak perlu memancing duluan, karena umpan datang sendiri.

.

.

Kyuhyun keluar dari rumah sakit setelah sejam kontrol, ia menoleh ke sana ke kemari di lobi lantai dasar. Dia mulai tidak nyaman karena pandangan pengunjung, mereka terlihat antusias sambil berkasak-kusuk saat Kyuhyun memilih duduk di kursi di sebuah kantin dekat pintu keluar. Ya, resiko artis sih.

Ia mencoba telepon, menelpon ibunya. Kenapa ibunya malah pergi? Mana tidak bilang lagi. Kyuhyun bangkit dari duduk saking tidak sabar, ia mondar-mandir seperti seterikaan, kadang jalan, kadang duduk, jalan. Kyuhyun berdiri, bergegas pergi menyusul ibunya.

Sampailah Kyuhyun dipinggir jalan, mencari tiap sudut bahkan memandangi kafe-kafe seberang jalan, lalu matanya bertumbuk pada Coffee Shop La Bene di persimpangan, ia menemukan ibunya. Dia bersama seseorang, seseorang yang selalu membayangi otaknya, Park Hye Na.

“Bu, aku ada di depan. Apa kau dengar?” Kyuhyun menelpon ibunya, ibunya menjawab namun tidak bicara, satu hal lagi ternyata…

“Aku sudah melakukan sesuai keinginan, tinggal cari orang untuk eksekusi rencana”

” Bagus, carilah orang yang mau berkencan denganmu. Pastikan kau mengajaknya kencan di tempat umum…seperti mall. Paparazzi biasanya suka menyamar dan dengan mudah mendapatkan foto kencan.”

“Sepertinya aku menemukan orang yang tepat, kau tak usah khawatir. Ini bisa jadi bukti ceraiku dengan Kyuhyun, setelahnya aku bisa lenyap dari hidup keluargamu serta Kyuhyun..kau puas kan?”

“Jangan lupakan janjimu, Park Hye Na-ssi.”

“Tentu, soal dokumen pasti aku tanda tangan.”

Dokumen? Dokumen apa?’

                          – I Remember, I Realized –

few days after that…

Nam Joo, hari ini tidak begitu banyak pasien. Cuma dia kurang tidur akibat semalaman menangani pasien skizofernia yang tiba-tiba mengamuk hebat sampai-sampai ia hampir kehilangan nyawa karena pasien tersebut mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya, hingga Nam Joo harus merelakan lengan kanannya terluka karena sayatan scapel. Scapel yang pasien gunakan untuk bunuh diri.

Ia masih merasakan sakit di lengan, membuatnya sulit makan, bahkan hanya sesuap. Nam Joo membenamkan kepalanya, ya, untung saja ada yang menahan kepala itu dari saus kimbap, sebelum dia tidur dengan wajahbelepotan saus.

” Tambah konyol, jika saus merah hati ini menghiasi wajahmu. Membuatmu makin jelek, tahu?” kekehnya pelan.

Gadis kurus bersuara rendah itu, membuyarkan mimpi Nam Joo yang sudah bersiap melanglang buana. Nam Joo menyadarkan punggungnya ke kursi kulit empuk kantin, ia memijat tengkuk dan dahi untuk sedikit mengurangi rasa kantuknya.

Nam Joo menarik napas panjang, kedua netra hitamnya menangkap sosok Hye Na, gadis pembangun tidur. Belum apa-apa ia menyodorkan sekaleng Ekspresso di depan Nam Joo. Ya, Nam Joo mengerti. Ia pasti ada maunya, mana mungkin memberi minum jika tidak berkata apapun.

” Kalau oppa menerima kaleng, berarti harus melakukan permintaanku.”

Nam Joo mengambil kaleng, membuka serta meminum isinya, ” Sekarang, apa permintaanmu nona?”

” Hari minggu nanti, temani aku jalan-jalan. “Hye Na menunjukkan sebuah tiket masuk nonton pertunjukkan lumba-lumba.

” Heh? Kau kan bisa beli tiketnya on the spot! Oh, satu lagi, ini bukan kencan atau semacamnya kan?”

” Tadi oppa sudah minum kopinya, berarti bersedia. Dilarang menolak! Sampai jumpa hari minggu nanti!”

Hye Na mengibas-ngibaskan tiketnya di depan wajah Nam Joo, kemudian pergi menjauh.

Evening, 5.40 pm

Kyuhyun makin penasaran akan separuh ingatannya yang hilang, ia pun coba menggalinya sedikit demi sedikit. Bukan hal mudah mengingat sesuatu yang terlanjur hilang, ia harus melawan rasa sakit yang kerap muncul, demi Park Hye Na.

Demi membongkar latar belakang gadis itu.

Sekitar setengah jam, Ia menuju kawasan apartemen di daerah pinggiran Gangnam, mau apa dia ke sana?

Kyuhyun tiba ke tempat tujuan. Alasan dia datang ke sini adalah sebuah misi penting dirinya, tentang fakta di masa lalu terutama kecelakaan parah yang menimpanya. Kyuhyun langsung meluncur ke lantai sepuluh, langkah kaki menuntun pada Kamar 1003, ia berusaha membuka kamar, sayang, ia lupa password. Dalam proses pembukaan, ia menekan angka apa saja, tapi selalu gagal.

Lagi, Kyuhyun menekan angka satu, delapan, nol, tiga.Tak disangka lampu sensor berubah hijau, tanda pintu tak terkunci.

‘ Bagus!’

Tanpa ragu ia memasukinya, mencari ke setiap sudut hingga pencariannya berakhir ke kamar utama, disana Kyuhyun menemukan kejutan lain.

Sebuah foto pernikahan yang terpampang di atas TV LCD. Wanita bergaun putih tulang di foto itu persis wanita bertopi hijau tentara, posturnya, alisnya, senyumnya sangat mirip.

Kyuhyun terus mengamati, mengamati dan mengamati. Sikut Kyuhyun menyandung tumpukan buku di sebelah kanan, sebuah benda keras terjatuh menimpa kaki. Jempol kaki Kyuhyun tak sengaja menekan layar, disana terpancar cahaya, Kyuhyun mengambil ponsel tersebut. Ada hal yang menarik perhatiannya, gambar di ponsel, gedung tua yang jadi home screen. Entah iseng atau naluri, Kyuhyun membuka salah satu aplikasi di home screen.

Kumpulan foto-foto Kyuhyun dan Seohyun berjejer memenuhi isi folder. Dari mulai fotonya ketika jalan bersama di kawasan China Town, Myeongdong, kencan di kafe di dekat kantor SM, semuanya dalam suasana mesra. Bersenderan, back hug, saling suap, oh, jangan lupa bergandeng tangan. setelah foto itu, ada video.

Video mengambarkan suasana remang, kemudian terdengar suara langkah kaki dari sebelah kiri. Muncullah dua orang, pria dan wanita. Sang wanita bergelayut mesra di leher pria,dia menatap wanita itu penuh cinta..

‘Oppa..kenapa tidak cerai saja sih? Kalau begini terus kan tidak enak. Kita selalu bertemu diam-diam.’

‘Seohyun sayang, sabar sebentar ya. Aku sedang cari cara supaya bisa lepas dari Hye Na, gadis aneh itu. Cari alasan yang tepat bukan hal mudah..’

Suaranya jelas Kyuhyun, tangan Kyuhyun bergetar hebat.

‘ Hmm…ayo cepat lakukan. Aku bosan seperti ini, Oppa tahu itu kan?’

‘Ok,ok.’

Seohyun menutup matanya, memajukan diri.’Ayo sekarang janji dulu! Cepat!’

Sang pria sigap mencium sang gadis dengan mesra, mereka saling berpelukan erat. Sangat erat.

Kyuhyun menjatuhkan ponsel, napasnya terengah-engah, tubuh hilang keseimbangan. Ia terkulai lemas di lantai kamar, karena reaksi di otak melemahkan tubuhnya. Belakang kepala membentur mebel kayu tempat tidur hingga…

– I Remember, I Realized –

Hari sudah pagi, cicitan burung mengiringi datangnya mentari yang muncul dari balik gunung. Sinarnya menembus setiap gedung, perumahan dan bukit. Mentari juga membangunkan seseorang dari pingsan yang berkepanjangan.

Ia menutupi wajah dengan tangan untuk menghalau sinar mentari, matanya mengerjap-ngerjap. Ah.. ia merasa familiar pada tempat ini, ini kan apartemennya. Kyuhyun. Sosok dibalik seseorang yang pingsan kemarin.

“Oh, astaga. Sudah pagi rupanya. Ugh! Kenapa aku bisa tidur di sini?” gumamnya.

Aneh. Rumah sepi begini.

“Hye Na sayang, kau di sana? Jangan lupa buatkan aku—”Kyuhyun berjalan ke arah dapur. Keberadaan Hye Na nihil. Apa dia ke pasar?

Bahkan Kyuhyun menunggu di ruang tengah, berharap Hye Na kembali sebentar lagi. Tanda-tanda Hye Na pulang atau suara langkah menuju apartemen tak didengarnya. Sama sekali.

Sebuah telepon bergetar saat Hye Na keluar rumah, untuk pergi kencan bersama seorang pria. Dia mengecek sebentar ponselnya, nama ‘ yeobo <3’ tertera jelas. Ya ampun, mau apa pria brengsek itu mengirim pesan? Mau minta maaf? Memohon ampun?

Nam Joo sudah menunggu di depan, tepatnya di depan taman dekat rumah Hye Na. Setelan kaos biru bergaris putih di dada, di lengkapi rompi abu dan celana jeans robek, oh, hampir lupa sepatu converse senada dengan rompi, menjadi style Nam Joo hari ini. Penampilannya berbanding terbalik ketika sedang bertugas, selalu rapi dan sopan.

Hye Na berjalan ke arah Nam Joo, Nam Joo sedang duduk di kap mobil lalu menoleh pada suara yang memanggilnya. Kedua netra Nam Joo sempat terpesona oleh penampilan Hye Na, sesaat ia menggelengkan kepala, menyadari bahwa dia masih berstatus istri orang. Ia bersikap sewajar mungkin dan selalu berpikiran positif, Hye Na tidak akan berencana lain soal jalan-jalan. Nam Joo membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Hye Na masuk.

Di dalam Hati Nam Joo merasakan hal aneh, sedikit ganjil pada kelakuan Hye Na, seperti mengelus pipi, berbisik di telinga Nam Joo dengan nada seksi atau berusaha menciumnya. Ini… tidak normal, oh, tidak. Jangan bilang akan terjadi sesuatu! Jangan sampai!

“Hye Na-a, berhenti. Kumohon! Apa yang kau lakukan sekarang bisa membuat orang salah paham. Mengerti? Berlakulah sebagaimana teman dekat.” pria itu menyingkirkan tangan Hye Na, memasang sabuk pengaman, dan mengunci tangan Hye Na ke belakang.

Oppa~”

” Diamlah. Tetap seperti itu sampai kita tiba.”

.

.

Sampai di akuarium, Nam Joo berhenti sejenak di tempat parkir. Pria langsing berambut coklat tua itu risih dengan kelakuan Hye Na, sebelum keluar, ia menasehati Hye Na.

” Kita teman, tidak lebih! Dengar, Hye Na-a, jika jalan-jalan yang kau maksud punya maksud terselubung… aku menolak! Menolak keras!

Hye Na memandang intens Nam Joo, menjawab ocehan Nam Joo. ” Oppa, siapa bilang aku punya maksud terselubung? Tadi aku cuma bercanda kok. Tenanglah, jangan mengomel begitu. Ya, ya, aku minta maaf, ok?”

Hye Na memeluk Nam Joo sebagai tanda maaf, amarah Nam Joo sedikit mereda setelah mendengar pengakuan Hye Na. Ia mengelus-gelus kepala Hye Na.

” Bagus, aku bisa lega sekarang. Ayo kita masuk ke dalam sana!”

..sayangnya ia hanya akting, adegan pelukan tadi terekam jelas oleh seorang paparazi yang memotret keduanya. Tanpa Nam Joo sadari, ia sudah jatuh dalam jebakan. Semua kegiatan Hye Na dan Nam Joo di akuarium terabadikan lewat foto-foto, bahkan rekaman video.

.

.

Beberapa hari, berita soal Hye Na kencan dengan seorang dokter ternama mulai muncul ke permukaan. Hye Na menyeringai menonton berita di TV, apalagi hal yang ia mau, terkabul juga. Bercerai.

” Apa-apaan ini?! Hye Na-a! Dia bilang jalan-jalan biasa, sekarang…” Nam Joo menggeram, tangannya meremas pulpen hingga patah. Nam Joo keluar dari ruang praktek, di depan ruangannya, ternyata Hong Jin, rekan sejawatnya mendorong Nam Joo masuk ke dalam.

” Apa kau bodoh? Di resepsionis banyak wartawan! mereka akan menanyaimu macam-macam. Tetap disitu! Kucoba hadang mereka semampuku.” Hong Jin mengunci Nam Joo dari luar.

Bukan Nam Joo, jika kemarahannya tak tersalurkan. Di kepalanya sekarang hanya Hye Na. Ia harus bertemu Hye Na, minta penjelasan soal kejadian tempo hari.

Nam Joo meloncat dari lantai tiga gedung Soo Won Mental Hospital, tanpa ragu. Ia mendarat ke tanah, padang rumput kecil jadi landasannya, walau sedikit luka akibat duri kecil yang menggores punggung tangan. Nam Joo berlari ke basment parkir, ia masuk mengendap-endap lalu cepat masuk ke dalam mobil sport metaliknya.

Berita ini juga membuat Kyuhyun, selaku suami Hye Na kaget tak percaya. Istrinya sendiri mengaku selingkuh, belum lagi Hye Na mengumumkan resmi perceraian. Apa maksudnya berita bilang sudah tak ada kecocokan diantara kami? Sungguh Hye Na bilang begitu?

” Hye Na, kita perlu bicara sekarang.” gumamnya. Kyuhyun menelpon Hye Na, memintanya bicara empat mata. Hye Na menerima telepon dan mengiyakan ajakan Kyuhyun.

Hye Na menyambut Kyuhyun di rumah keluarga Park, raut wajah Hye Na tak menyiratkan kecemasan atau takut, justru ia tersenyum lebar. Kyuhyun benar-benar ditipu juga dikhianati. Hye Na menyuruh duduk di teras rumah, Kyuhyun menurutinya. Dalam rumah, Hye Na mengambil sebuah dokumen berbungkus amplop coklat, menaruhnya di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun membuka amplop perlahan, isi amplop tersebut adalah…

” Kau gila menyuruhku tanda tangan! Jangan harap aku melakukannya! Jujur saja, kau mau balas dendam padaku kan?”

Senyuman sinis menggembang di bibir mungil Hye Na, wanita berparas agak tirus itu membuka suaranya, menanggapi reaksi Kyuhyun.

” Aku bosan. Lelah. Apa alasan itu belum cukup?” Hye Na mengemukan alasan (bukan) sebenarnya pada Kyuhyun.

” Kau tinggal tanda tangan ini, semuanya beres. Setelahnya kau bebas mengencani wanita mana pun.”

Kyuhyun menggebrak meja, tatapan marah yang ditujukkannya. Ajuan cerai Hye Na dibalas jawaban spontan bernada keras kepala oleh suami,” Tidak mau.”

” Kau harus mau.” Hye Na tetap pada pendiriannya untuk meminta Kyuhyun tanda tangan, terus berusaha memaksa.

” Tidak.Akan. Pernah. Kau dengar?!”

” Cho Kyuhyun-ssi!”

” KITA TIDAK AKAN BERCERAI, TIDAK AKAN! AYO HYE NA KITA KEMBALI KE RUMAH!” Kyuhyun menarik tangan Hye Na, sayang, Hye Na menolak.

‘Cho Kyuhyun, aku bukan wanita seperti dulu yang menurut dan patuh ketika diminta. Sekarang, perasaanku perlahan berubah…’

Hye Na memalingkan wajah, surat cerai diserahkan tanpa berdebat lagi. Ia masuk ke rumah, mengunci pintu. Membiarkan Kyuhyun.

” Hye Na! Turun! Kita belum selesai!”

Dalam kesepian yang memeluknya, Hye Na menangis, cairan bening itu menghiasi wajahnya sekarang.

Kenapa malah menangis Hye Na bodoh? Untuk apa menangisi pria yang telah mengkhianati cintamu?

Tinggalkan saja dia! Beri pelajaran padanya atas rasa sakitmu!

Hye Na berdiri dari duduknya, membuka jendela kamar, memastikan Kyuhyun enyah dari hadapannya. Baguslah. Dia tahu diri juga, kalau lama-lama disini bisa saja dia celaka untuk kedua kali.

Memang lepas dari bayang-bayang Kyuhyun bukan hal mudah bagi Hye Na, apalagi ia cinta pertamanya. Sekarang saatnya ia belajar melepaskan, belajar melupakan.

‘Park Hye Na, kau harus bisa! Bisa!’

.

.

” Apa? Ke Inggris? Bukannya di Korea bisa kuliah juga kan?” pekiknya.

” Disana sedang gencar program beasiswa bagi pekerja sosial, sangat terbatas kuotanya, aku terpilih jadi penerima beasiswa, keren kan?! “

Sunyoung memicingkan alis, tatapannya sangat intens. Hye Na bersikap tenang seolah perkataan tersebut bagaikan membalik telapak tangan, sangat mudah.

” Kyu oppa tahu soal rencana unnie? Dia—”

Antusias Hye Na memudar, ketika -orang-yang-namanya-tidak-boleh-disebut terdengar. Nada bicaranya jadi tinggi, penuh amarah dan sorot mata menusuk tajam.

” Diamlah dan jangan bicara padanya!”

Unnie! Tidak bisa begitu! Dia saja belum beri keputusan soal perceraian, pikirkan sekali lagi rencanamu. Bagaimana bisa—”

” Aku sudah matang memikirkannya. Dua minggu lagi aku dan Hae Ra berangkat, tolong kau jaga ibu selama aku tidak ada, mengerti?”

Sunyoung merasa sikap Hye Na begitu janggal, sejak pengumuman skandal dirinya dan seorang dokter, dia malah tersenyum senang bahkan terlihat sangat bahagia. Sekarang? Dia berencana pergi tanpa memberitahu Kyuhyun, suaminya.

Unnie, ada apa denganmu?’

.

.

” Apa-apaan ini?! HEY! Berhenti!”

Kyuhyun gusar ketika petugas pindahan keluar apartemennya. Mereka mengangkut barang-barang Hye Na yang masih tersisa, Kyuhyun saat itu baru pulang dari studio, kedatangannya kalah cepat dengan petugas pindahan sehingga ia tak sempat mengejar karena kelelahan.

” Ugh! Benar-benar! Park Hye Na, kau!”

H-7 before Hye Na Depart, Park Family Home.

Sebuah koper disiapkan Hye Na di kamar, ia sedang memilah-milah pakaian yang akan dibawanya, nyonya Park kebetulan datang ke kamar putri tertua, beliau menaruh puding susu favorit Hye Na. Bibir nyonya Park digelayuti banyak pertanyaan terhadap putri sulungnya, gatal ingin tahu alasan Hye Na pergi mendadak. Sang putri balik menatap dirinya, ia hanya tersenyum lebar, mengelus lengan nyonya Park.

” Bu, aku minta maaf padamu.”

 “Kau pergi demi mengejar cita-citamu jadi arsitek, buat apa minta maaf? Kalau memang itu yang terbaik… lakukanlah. Lakukan hal yang menurutmu pantas diperjuangkan,sudah tugas ibu mendoakanmu.” dengan pelukan, nyonya Park meredakan rasa khawatir Hye Na.

Hye Na memeluk erat ibunya. Sangat erat. Seakan itu pelukan terakhir.

Dari luar kediaman, Sunyoung berteriak,” Ibu!! Unnie!! Aku bawa ddeokpokki pedas nih! Cepat buka pintunya! Tidak enak kalau dimakan dingin!”

.

.

Nam Joo tak habis pikir dengan kelakuan Hye Na, hidupnya berasa diputar seratus delapan puluh derajat, sekarang Nam Joo selalu diikuti oleh paparazi. Bahkan diluar tempat kerja atau di rumah, ada saja orang yang selalu mengikuti. Ketika makan malam bersama adiknya, Yoojin, Nam Joo mendapat panggilan telepon.

Hyung! Teleponmu berisik sekali, angkat sana! Bagaimana kalau itu rumah sakit?”

Nam Joo menggenggam erat ponselnya, ia bangkit dari tempat duduk, tanpa bicara, dengan wajah masam mengangkat telepon.

” Berhenti menggangguku! Kenapa kalian terus—”

“Oppa! Aku-” suara lembut nan rendah terdengar dari sana.

” Hye Na? Oh kebetulan, aku ingin buat perhitungan. Ayo kita bertemu!” balasnya menyeringai.

Setelah pertemuannya dengan Hye Na, Nam Joo mengetahui sebuah kenyataan pahit dibalik berita kencan yang melibatkannya. Suami Hye Na, Cho Kyuhyun, berselingkuh. Hye Na sangat muak, apalagi ia menyaksikan sendiri suami tercinta ‘bermain api’ .

Nam Joo memang kesal pada ulah Hye Na, apa yang dilakukan wanita itu keterlaluan, ketika mendengar semua, baru Nam Joo mengerti dan malah bersimpati.

 ” Dia sudah ingat? Bukannya katamu dia amnesia?”

” Dia…sudah ingat, ck! Apa selama ini dia pura-pura? Datang padaku langsung marah-marah, harusnya aku yang marah. Sungguh lucu.”

” Berita ini ternyata umpan yang tak terduga. Kenapa aku baru sadar? Dari awal dia bangun, beritaku bisa membuatnya ingat.”timpal Hye Na.

Nam Joo menarik nafas, ” Hye Na, dia akan semakin syok apalagi ingatannya baru pulih. Kau sama sekali tak kasihan…atau… bagaimana? Pasti berat…menerima berita buruk. Lalu dia-“

Tatapan Hye Na memicing tajam, ucapan Nam Joo seakan membela Kyuhyun, dia mulai kesal. Nam Joo tertawa ketir, seraya menggelengkan kepala. Nam Joo sadar sebentar lagi Hye Na pasti mengalihkan pembicaraan, terlihat dari gerak-gerik tangan juga kepala yang menunduk, giginya terus menggertak.

Sunyi. Tanpa pembicaraan beberapa menit.

Kemudian Hye Na buka mulut kembali, bibirnya tersenyum ceria.

‘Benar. Tadi kau tersinggung pada ucapanku kan?’

“Hye Na-a.”

” Malas membicarakan dia terus-ah hampir  lupa, minggu depan aku jadi ke Inggris. Beasiswaku diterima!”

” Oh ya, soal nama baikmu… tadi aku klarifikasi. oppa bisa tenang dan melanjutkan kegiatan seperti biasa.”Hye Na menepuk pundak Nam Joo.

Nam Joo terhenyak,”Yah..bagus. Tunggu! Inggris? Kau serius?”

Hye Na menggangguk senang, wajahnya berseri-seri. Nam Joo tak kalah kaget dengan keputusan Hye Na, wanita ini…cepat sekali move on.

“Hmm..kira-kira jam berapa pesawatnya? Ya…kalau jadwalku kosong, mungkin bisa.” Nam Joo mengecek kalender di ponsel.

Oppa kerja saja. Aku berangkat dengan teman kok, sampai disana aku kabari,ok? Kalau rindu tinggal chatting.”

.

.

H-1 before Hye Na’s Depature

Kyuhyun berdiri di depan pagar besi berdinding bata biru cerah, ia mendongakkan kepala, kedua netra coklat tua Kyuhyun tertuju pada jendela gorden putih renda dengan hiasan bunga krisan. Berharap Hye Na lewat dan menyadari kedatangannya.

Unnie! Ini buku panduan pelajar yang tadi unnie minta, aku taruh di kamar—eh…itu kan..”seru Sunyoung , ucapannya menggantung begitu ia menoleh ke arah jendela. Sosok Kyuhyun di depan pintu rumah, mengalihkan perhatian. Sunyoung hendak memanggil, niatnya urung begitu Hye Na minta dibantu.

Bahkan menjelang jam sembilan, Kyuhyun masih disana. Ia menunggu di dalam mobil, memandangi pintu gerbang, siapa tahu Hye Na. Perkiraan Kyuhyun meleset, setelah menunggu lama, suara pintu gerbang terbuka, Kyuhyun keluar mobil.

” Kyu oppa, pulanglah. Hye Na unnie sudah tidur, besok dia ada acara..terus..dia bilang dilarang mengganggu.”

“Sunyoung-a! Apa dia bilang ke mana?”

Sunyoung hanya mengangkat bahu, ” Entahlah.”

‘Maaf, oppa. Hye Na unnie menyuruhku tutup mulut.’

” Oh..ya sudah.”

9.55 am. After Hye Na Depature..

.

” Dia pergi ke mana? Sunyoung-a!! Urusanku belum selesai! YA!! PARK HYE NA! BAGAIMANA BISA KAU PERGI TANPA MENGATAKAN APAPUN?!”

“Katakan ke mana Hye Na pergi? Ke mana?” Kyuhyun mengoncang-goncang tubuh Sunyoung. Ia sama sekali enggan menjawab, meski dipaksa. Sunyoung, terlanjur janji.

Ia masuk ke dalam dorm. Sebenarnya di dalam batin Sunyoung, berkecamuk, antara memberitahu atau tidak.

” Kyu oppa… jangan mencari atau berhubungan lagi dengannya. Tolong biarkan dia hidup tenang, juga… lupakan dia. Apa oppa senang jika dia terus tersakiti?”

Hye Na pergi bagaikan bumi yang ditelan, ditelan sedalam-dalamnya.. dimana dia sekarang? ke mana rimbanya?

Hye Na masih hidup, itu berita bagusnya. berita jeleknya, ia tidak akan kembali, untuk waktu yang tak ditentukan.

Ke mana? Cuma Tuhan dan dirinya yang tahu.

.

.

Baru merenung, menimbang dan menyadari betapa berharganya hati juga perasaan seorang wanita. Setelah ia kehilangan, kehilangan orang yang mencintainya. Adalah hal yang baru ia sadari bahwa di dalam hati…perasaan Hye Na begitu besar, murni dan tulus.

Sayang, ia terlambat.

Seperti undangan yang datang sebelum ia sempat bertindak.

Undangan pernikahan.

~end~

epilog

England, Leeds University

East Dorm Kitchen

3 years Later…

Oh, you’re so good on this. your cooking skill is awesome, Korea dish not bad as i think, isn’t right everyone? Especially this spicy vegetables, so tasty!” John, pria asli Manchaster ini begitu terpukau. Keahlian masak Hye Na ternyata membawa dampak positif, tidak sia-sia ia belajar masak dari kecil.

Ruang makan dorm dipenuhi gelak tawa bahagia, serta aroma sup kimchi ramyun, begitu sedap dihirup. Hye Na melepas celemeknya ketika sebuah telepon berdering di kantong.

Excuse me, i have call. I’ll come back later!” ucap Hye Na tersenyum, ia melambaikan tangan pada rekan-rekannya.

Hm..okay. It’s fine.” Regina memberi sinyal bulatan ibu jari dengan telunjuk.

.

.

” Oh..sudah lama. Aku baru saja ingin memberitahumu kabar gembira.”

Hye Na mengeluarkan sebuah pamflet merah hati berbentuk bunga mawar. Di dalamnya berisi undangan pernikahan.

“Apa kau… akan kembali ke Korea? Aku akan senang hati jika kau—”

“Kau jangan salah paham. Aku belum ada rencana kembali ke Korea, satu.. hal lagi… aku akan menikah, kuharap kau sadar itu. Kau mengerti kan, Kyuhyun-ssi?”

.

.

Tidak. Aku sama sekali tidak mau. Tidak mau mengerti.

Kenapa kau tega padaku?

FUUHHH…akhirnya kelar nyelesain ini. *kipas-kipas* apa ada yang puas atau.. makin greget?? Gimana tanggapan kalian readers? habis ini ga sequel-sequelan lagi, ini aja udah paling mentok, okay?

Makasih yang udah baca sama ninggalin komen di ff”Jealousy”dan di sequel ini, author sangat, sangat hargai ^^

Sampai ketemu di karya selanjutnya \ ^o^/

Bye,bye!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s