[Sasusaku] #1 Since When You Like Me?

Speak Up Your Mind #1 

tumblr_static_tumblr_mnzdixcgiz1s6icy1o1_5002

(c) pic: google

Next: Tell Me Your Reason

Meski sudah tak terbebani misi, aku masih punya tanggung jawab mengajar para genin di Konoha, dalam hal ini aku bertindak sebagai guru praktek medis. Bukan hal mudah mengajari mereka teknik pengobatan medis ninja, ugh! Mereka kadang sulit diatur, ada yang bermain-main dengan alat peraga, memainkan obat-obat, menyuntikkannya secara sembarangan. Benar-benar menguji kesabaranku! Hampir saja aku lepas kendali, mengeluarkan jurus one punch untuk menghajar mereka, untung aku masih ingat tempat.

Hari esok tepat dimulainya musim semi,  Akademi sudah memberi pengumuman bahwa seluruh pengajaran ditiadakan, itu artinya hari bebas untukku. Ya, hari bebas tugas. dari jendela luar, bunga sakura di depan Akademi menunjukkan tanda-tanda akan bermekaran. Tanpa sadar, bibirku membentuk senyum lebar, di sana terbayang seseorang. Dia janji akan mengajakku berkelana, tepat di musim semi.

Dia sama sekali tidak bilang alasannya, hanya bilang aku harus menemani. Dasar! Kenapa main rahasia-rahasiaan? Sebegitu malunya padaku.

Sakura, aku mau mengajakmu berkelana. musim semi nanti aku akan menjemputmu di tempat biasa.

p.s: Jangan sampai kau menolaknya!  T ^ T

Tipikal Sasuke sekali, singkat, padat dan jelas. Memang langka dia memakai emoticon seperti itu, terdengar imut. Begitu yang kurasa saat menerima surat kiriman Sasuke dua hari yang lalu melalui burung merpati pengirim pesan.

Kesempatan emas yang akhirnya terkabul juga! Shannaro!!! Haruno Sakura, ayo manfaatkan!

Sambil membereskan alat-alat praktek, aku terus membayangkan bagaimana romantisnya berkelana, cuma berdua. Tawaku meledak hingga terdengar di sepanjang koridor, kuharap tak yang dengar. Sama sekali. Eh ternyata…

“Sakura, ada apa? Tawamu terdengar sampai pojok koridor lho. Ayo, pasti ada sesuatu kan?” Ino tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan nada bicara menggoda padaku. Semburat malu terpampang jelas di pipi, aku menolehkan wajah ke arah lain supaya tak terlihat. Bukan Ino namanya kalau tidak berhasil mengorek apapun, ia selalu punya cara demi mengetahui rahasia, termasuk aku.

” Ayo, Sakura…jangan pura-pura. Aku tahu tadi kau sedang membayangkan yang—”

“Tidak ada kok. Kau ini ingin tahu saja, Ino. Sudahlah aku lelah, ayo pulang, aku tak sabar menunggu hari esok. Hari bebas tugas!!” jawabku mengalihkan perhatian.

Kami jalan berdua keluar dari Akademi, bukan berarti di jalan dia diam saja, Ino terus bertanya macam-macam. Duh! Dia benar-benar… tidak menyerah sebelum aku bicara semuanya. Terpaksa aku berbohong, yah, mana mungkin jika aku mengatakan akan kencan dengan Sasuke-kun? Aku bilang saja ada urusan penting besok.

Lagipula kenapa begitu tertarik soal urusanku? Duh, aku lupa dia kan bisa baca perasaan…belum sempat bicara, pasti sudah bisa menebak.  Sebelum kami beepisah, dia berpesan padaku, “Sakura! Kau harus buat Sasuke-kun, jujur soal perasaannya padamu!! Semangat ya besok!”

‘Glek! Tuh benar kan, dia tahu.’

” Ah..ok..aku…usahakan.”

Ino menyengir lebar, melambaikan tangannya dan masuk ke dalam toko bunga Yamanaka sekaligus tempat tinggalnya.

Sedangkan aku berjalan lurus, seketika di jalan menuju rumah, jadi teringat.

‘Apa aku harus buatkan dia makanan? Ah, sepertinya itu perlu. Selama berkelana pasti butuh bekal, ok! Sekarang aku harus belanja.’

.

.

“Sip! Rumput laut, beras, kacang tanah, tepung beras, pewarna makanan.” Aku mengecek semua belanjaan. Yak, lengkap!

.

.

” Sakura-chan! Makan malam! Cepat kemari, nanti keburu dingin!” panggil ibuku.

” Iya bu! Aku menyusul! Dangonya belum selesai, tanggung tinggal di rebus.”jawabku dari dapur.

” Kalau sudah selesai, cepat makan!”

Esoknya…

Sakura bangun pagi-pagi, ia langsung ke dapur, mengambil kotak bento hitam bermotif ranting pohon. Nasi yang ia masak kemarin dipanaskan, sambil menunggu nasi panas, menyiapkan tusuk panjang untuk dango, dango buatannya langsung satu persatu ditusuk. Selesai menusuk, Sakura mengecek nasi, yah, lumayan panas. Ia segera membuat onigiri, membentuk onigirinya berbagai macam ekspresi wajah Sasuke, menata di kotak bento secantik mungkin.

Semua peralatan kemping sederhana, masuk ke tas coklat. Sakura berganti baju, baju terusan merah tomat selutut tanpa lengan dipadukan celana dalaman hitam, ditambah sabuk kain hitam menghiasi pinggang. Jubah krem pastel jadi pelengkap penampilannya, oh, sedikit parfum aroma lemon. Sakura turun ke bawah, aroma Sakura tercium oleh kedua orangtuanya begitu Sakura tiba di meja makan. Wajah Sakura begitu sumringah, dia sedang good mood, terus ibunya menyeletuk,”Sakura, mau ke mana dandan secantik itu?”

Ayahnya ikut menimpali,”Iya, jarang melihatmu dandan. Apa syarat misi harus dandan begini?”

” Tidak. Memang kenapa? Tidak boleh? Apa dandan itu tidak cocok untukku?” cerocosnya sebal.

Mereka menggeleng, sambil melanjutkan sarapan. Sesekali mencuri pandang pada anak perempuan mereka satu-satunya, tanpa diketahui.

Sakura menaruh mangkok dan sumpitnya di cucian piring, mencuci bersih sisa-sisa nasi yang masih menempel.Ia bersenandung kecil, di sela-sela mengelap mangkok. Senandung bahagia terdengar oleh orang tuanya, mereka yakin putrinya sedang jatuh cinta, ya, jatuh cinta.

Hari ini merupakan hari yang ditunggu Sakura, hari bahagia. Hari dimana perasaannya terbalas juga, terbalas oleh Sasuke, cinta pertama, cinta sejatinya selama dua puluh tahun lebih.

Sebelum keluar rumah, Oh, ada yang lupa…

triing!

‘ Oh ada pesan masuk!’

Di notifikasi pesan terpampang nama Sasuke. Sakura pun tersenyum lebar, diiringi rasa berbunga-bunga.

from : Sasuke

Sakura, kita bertemu di dekat pintu masuk. Tunggu aku disitu. Aku sekarang di kantor Hokage, ada urusan sebentar dengan Kakashi.

Sakura memenuhinya. Ia segera keluar dari rumah, pergi meninggalkan orangtuanya dalam kebingungan.

“Sakura!! Pastikan kau kenalkan dia pada kami!!”

” Siapa dia kami harus tahu! Ingat itu Sakura!”

Sakura mengepalkan tangan, senyumnya terpampang jelas dan memberi kode ok pada orangtuanya. Ia berlari riang ke arah pintu keluar desa, tak lupa menyapa orang sekitar termasuk Ino, sahabatnya.

” Sakura-chan!! semangat ya!” teriak Ino.

‘Yosh! kau pasti bisa!’Shannaro!!’

Sasuke berjalan tenang melewati jalanan desa, menoleh sebentar ke kanan dan ke kiri, desa cukup banyak berubah semenjak ia memutuskan pergi berkelana untuk menebus dosa. Dia terdiam sebentar ketika berhenti di suatu tempat, aroma harum menguar dari dalam sana, eh ada seseorang yang menepuk pundaknya, dia langsung mengaktifkan sharingan. Sasuke pun membalikkan badan.

“Eh, jangan pasang muka seperti itu. Ini aku, Sasuke-kun.” Ino memasang wajah ramah, ia membawa sebuket bunga matahari di tangan kirinya.

” Kenapa tiba-tiba berhenti di depan tokoku? Kau mau beli bunga? Sini aku pilihkan. Hmm…”

Sasuke menarik lengan Ino lalu berbisik padanya,’Jangan bilang siapa-siapa ya, ingat itu! Cepat bungkus bunganya!’

Sasuke berdeham kecil, mukanya dibuat sedingin mungkin.—pura-puranya— agar menyembunyikan raut wajah yang memerah malu. Sebenarnya dia gengsi, tapi ya sudahlah daripada keinginan dipendam, kapan lagi ia bisa bersikap romantis pada calon kekasihnya. Minimal ini bisa jadi kenangan, pikir Sasuke.

Ino menyerahkan sebuket mawar merah, Sasuke buru-buru memasukkan bunga itu ke dalam jubahnya. Berjalan agak cepat, biar tidak dicurigai. Ino tersenyum lebar melihat kelakuan Sasuke, sambil merapikan bunga di etalase.

.

.

Sampai di gerbang desa, ia menangkap sosok Sakura sedang duduk di kursi taman. Sasuke memanggilnya dari jauh. Sakura tidak mendengar karena kedua telinganya terpasang earphone, Sasuke menelponya dari pintu gerbang.

” Dasar menyebalkan! Apa kau tidak dengar? Dari tadi aku memanggilmu!” Sakura langsung kaget saat mengangkat telepon.

Sakura menolehkan wajahnya, menunduk maaf.

.

.

Sejalan demi sejalan mereka lewati, bahkan dari tadi salah satu diantara mereka tidak mengeluarkan sepatah kata,seperti orang asing saja. Sasuke memang tipe gengsi jika memulai pembicaraan, beda jika ia mengemukakan strategi pada rekan timnya, Taka, dulu. Ia lancar jaya bicara seperti itu karena tidak menyangkut soal pribadi, untuk satu ini? Dia sulit mengemukakan, ada gengsi membentengi bibirnya untuk bicara.

“Saku..”Suara pelan Sasuke tidak begitu terdengar.

Sakura melihat kanan kiri, merasakan suasana musim semi. Daun Sakura berguguran begitu indah dipandang. Kelopak bunga jatuh ke tangan Sakura, juga di atas kepala Sasuke, Sakura berjinjit untuk mengambil.

“Sasuke-kun, menunduklah. Ada sesuatu di kepalamu. Ah, disini juga.” wajah Sasuke sedikit memerah, apalagi jarak wajah mereka dekat. Sakura tersenyum kecil.

Suasana canggung begitu kentara selama perjalanan, Sasuke berjalan di belakang Sakura, ia memandangi punggung gadis itu sembunyi-sembunyi. Tangan Sasuke hendak meraih pundak Sakura, namun ia begitu gemetaran. Ia mengurungkannya.

“Sasuke-kun.”

” Hm?”

” Sejak masih di akademi, apa kau tahu ada seseorang yang selalu memperhatikanmu dari jauh? Apa kau merasa risih selalu diperhatikan dan diintai?”

Sasuke menarik napas pelan, ” Kau sedang membicarakan dirimu kan?”

” Eh, kenapa bisa…tahu?”

“Memangnya aku tidak sadar? Dari dulu kau selalu membuntuti dan mengikutiku…sigh…”Sasuke mengerinyitkan dahi, memandang Sakura. Yang dipandang malah menatap polos tanpa dosa. Tawa Sakura terdengar setelahnya..

” Kau terganggu? Entahlah, kenapa aku memilihmu, kau adalah orang pertama yang membuatmu penasaran bahkan sampai sekarang. Juga… Sasuke-kun…apa kau percaya cinta sejati?”

‘ Cinta sejati?’

Belum sempat menjawab, Sasuke memperhatikan ada keganjilan dengan senak-semak di sebelah kiri mereka, tali tak terlihat terkena kaki kanan Sakura dan…

” Sakura! Awas!”Sasuke sengaja memutus tali tersebut kemudian menggendong Sakura secepat kilat.

Puluhan Kunai keluar dari semak dan tertancap di pohon, Sakura yang kaget lalu berteriak pada Sasuke,” Disana terpasang bom asap, aku yakin ini jebakan. Ada yang mengincar kita.”

Terlambat. Bom di kunai itu meledak, serta berhasil memerangkap mereka. Ada serangan dari arah depan dan belakang, segera Sasuke dan Sakura pasang posisi. Lagi-lagi gangguan datang saat pembicaraannya mulai serius.

‘Shannaro!!’

“Ayo kemari! Biar kuhajar berkeping-keping! Jangan bersembunyi, dasar pengecut!”

Dari kabut asap bom, muncul sosok besar serta kumpulan samurai di kanan kiri. Sosok besar seperti pesumo betutup mata satu, tertawa sinis pada Sakura. Ia mengarahkan pedang bermata terbalik ke leher Sakura, Sasuke bergerak cepat keluar, ia ternyata sudah menyerang duluan dengan sabetan pedangnya yang dialiri chidori ke kumpulan bandit yang hampir melukai Sakura.

Asap mulai memudar, Sakura bisa melihat orang-orang yang berniat menyerang mereka berdua. Belum selesai disitu, dua orang bandit samurai hendak menusukkan pedangnya dari belakang, tanpa ampun Sakura menendang mereka jauh hingga menabrak teman-temannya seperti bola bowling yang menabrak pin, jatuh tak bersisa. Sedikit pun.

 Saking dahsyatnya pukulan Sakura, Bekal berbungkus kain motif bunga sakura ikut hancur terkena pukulannya. uh, bekal penuh cinta…selamat tinggal.

“Sasuke-kun..bekalnya..”

Sasuke berjongkok, mengelus puncak kepala Sakura,”Tidak apa-apa, tidak usah menangis.”

Sakura masih meratapi bekal, air matanya berlinang, membasahi serpihan-serpihan dango dan onigiri yang hancur berantakan. Dia sudah membuat itu semalaman dan sekarang harus hancur karena kecerobohannya. Sasuke menenangkan Sakura sekali lagi, kali ini dengan sebuah pelukan hangat. Sakura pun tenang, ia harus menerima kenyataan.

Nasi sudah menjadi bubur.

                                                                             ————

Mereka istirahat di sebuah onsen, awalnya Sakura menolak, tapi Sasuke keburu masuk dan langsung pesan kamar. Disertai semburat malu, Sakura mengikuti Sasuke, ia sama sekali tak mengerti kenapa diajak kemari, atau jangan-jangan..dia mau…

“Sasuke-kun! Kita lanjutkan perjalanan saja, aku merasa…”Ia menarik ujung jubah hitam Sasuke.

” Kita cuma dapat satu kamar, ayo cepat! Lagipula sekarang sudah mulai gelap. jika kau berkeliaran diluar, kita tidak tahu apa bahaya yang mengintai.”

Sakura memang kuat, tapi ia tetap saja wanita, wanita yang suatu saat membutuhkan pertolongan. Bagaimana kalau diserang musuh? Itu yang Sasuke khawatirkan.

Sakura terdiam, ia berhenti merajuk.

Sang pelayan onsen menujukkan kamar di pojok koridor, mempersilahkan mereka masuk. Membiarkan tamu beristirahat sambil mengingatkan kalau mau pesan makanan, bisa langsung memanggil.

Sakura dan Sasuke masuk ke dalam, namun langkah kaki Sakura begitu berat seakan ditimpa beban. Apalagi di kamar ini cuma mereka berdua, Sakura tak tahu apa yang Sasuke pikirkan, apa yang direncanakan. Sama sekali. Ia harus menjaga diri walau di depan orang yang disukai. Sasuke melepaskan jubahnya, tak lupa menaruh pedang serta perbekalan di atas meja, lalu…

Sakura membalikkan tubuhnya, bergerak menyamping, menghadao tembok.

“Aku…ke..luar..dulu..”

Sakura menutup wajah, menghindari oemandangan tak seharusnya dilihat. Ia berjalan ke arah pintu masuk tadi. Tanpa ragu ia menggeser pintu, lalu keluar.

Sepanjang malam Sakura memilih untuk istirahat di lobi, hingga ia tertidur disana. Tanpa selimut ataupun alas, hanya meja sebagai alas tidurnya. Salah satu pelayan menepuk-nepuk pundak Sakura, sayang, gadis ini tak kunjung bangun. Menjelang dini hari, hembusan angin kencang menerpa, hembusan itu menusuk kulit. Sakura seketika bangun karena kedinginan, mata masih setengah sadar, ia berjalan ke kamar penginapan di pojok. Kemudian masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya sambil menarik selimut.

Paginya…

Mentari menyingsing begitu tinggi, cahayanya menyilaukan mata. Mau tidak mau itu membangunkan sang penghuni kamar. Sasuke langsung bangun, tapi pundaknya terasa berat, ada sesuatu menindih. Benar. saja, di samping Sasuke, Sakura tertidur pulas, tangan kiri memeluk tubuhnya. Beberapa menit, Sasuke memandangi Sakura, lalu ide jahil terlintas di kepala.

Sakura membuka mata, entah rasa apa ini. Tubuhnya begitu hangat, bahkan lebih hangat dari sebelumnya, ia mendongakkan kepala dan…

“Pagi, Sakura.”Senyuman jahil Sasuke menyambutnya.

Muka Sakura memerah, bak air mendidih. Tanpa komando, tangan kanannya membogem dagu Sasuke, Sasuke menabrak pintu, membuat pintu tersebut lepas ke luar.

“Tadi kau…mau apa?! Terus kenapa aku disini?”

“Sa…ku..ra..”suara rintihan terdengar dari bawah kolong kamar di luar. Sakura melihat sebuah tubuh merangkak dari bawah kolong kamar, wajahnya sedikit babak belur. Dia adalah Sasuke, orang yang barusan ia pukul.

“Kau…sama sekali…tak mengerti ya?”

“Apanya?”

” Aku cuma bercanda. Lagipula, kau duluan yang mulai—”

krukkk…krukkk…

Sasuke menyadari perut Sakura berbunyi, ia keluar kolong meja. Dengan yukata masih ditempeli serbuk kayu, ia memanggil pelayan dan meminta sarapan segera disiapkan untuk mereka. Sakura menunduk malu, mencengkram bajunya erat, satu tangannya memegang perut. Sakura memperhatikan Sasuke, ia masih sebal pada ulah jahilnya.

Sakura keluar kamar untuk mencuci muka, tanpa bicara apapun pada Sasuke. Dia—Sasuke— menanggapi santai kelakuan Sakura, kenapa wanita begitu sensitif? pikir Sasuke. Tak lama pesanan makanan datang, sushi dan teman-temannya siap disantap.

Sasuke makan, eh, Sakura tiba-tiba muncul dengan wajah cemberut. Ia duduk berjauhan di seberang Sasuke.

Sakura tanpa malu makan, dasar! benar-benar kelaparan rupanya.

.

.

Di sepanjang jalan Sakura masih jutek, ok, dia punya jurus mengatasinya. Sasuke menggenggam sesuatu di dalam jubah, dia bukan tipe pengalah, namun kali ini ia mau tidak mau mengalah sedikit. Sasuke menggaruk tengkuknya, menyerahkan sebuket bunga.

“Hmm…ini! Terimalah! Anggap aku minta maaf padamu!”

Ia memalingkan wajah, tidak mau wajah gengsinya diketahui.

di wajah cemberutnya berubah senyum, wajah Sakura berseri-seri. Dan di dalamnya ada surat kecil terselip diantara bunga..

Untuk Sakura:

Sejak kapan kau menyukaiku? Entah apa alasannya… aku juga menyukaimu. Cuma lewat bunga ini aku bisa menyampaikan perasaanku.

‘ Aku mencintaimu’

“Huwee…Sasuke-kun. Kau romantis juga ternyata.”

‘Apa? romantis? romantis apanya?’

Sasuke mengambil memo pink kecil yang dipegang Sakura. Dengan Chidori, ia menghancurkannya menjadi abu.

“Aku..sama sekali tidak menulisnya!”

‘Ck! Yamanaka Ino! Kau!’Sasuke memasang aura kesal diiringi oleh wajah Ino yang terlihat senang di benaknya.

Sasuke berjalan jauh menghindari Sakura, Sakura makin penasaran dengan memo kecil itu..ia mengejar Sasuke tapi Sasuke kembali menjauh, Sakura tak menyerah dan balik mengejarnya.

“Eh..Sasuke-kuunnn! Kenapa tidak mau mengatakan alasannya? Alasanmu menyukaiku??”

“Berisik!! Kau menyebalkan!”

Jika kau bertanya sejak kapan?

Ini jawabannya…

 

Sejak kau putuskan bertahan, maka sejak itulah aku menyukaimu…

 

Terima kasih…Sakura. Sudah bertahan untukku…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s